Dari pihak CRecTech, CEO Kang Hui Lim menjelaskan keunggulan teknologi mereka. Teknologi CRecREF ini dirancang khusus untuk aplikasi semacam ini.
Kata dia. Teknologi mereka diklaim bisa mengolah aliran biogas berkualitas rendah langsung di lokasi produksi, lalu mengubahnya jadi bahan kimia hijau bernilai tinggi. Yang menarik, proses ini dikatakan tak butuh investasi besar seperti pada pabrik metanol konvensional.
Latar belakang kerja sama ini juga cukup kuat. Dunia sedang berlomba transisi dari bahan bakar laut konvensional ke alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sektor pelayaran internasional punya tekanan besar untuk beralih ke bahan bakar rendah karbon. Di sinilah biometanol punya peluang.
Dan Indonesia? Potensinya memang menjanjikan. Sumber biogas yang signifikan bisa didapat dari sektor kelapa sawit, tepatnya dari limbah cair pabrik kelapa sawit atau POME. Pertamina NRE sendiri sudah mengidentifikasi beberapa lokasi dalam portofolionya yang punya bahan baku dalam skala besar. Salah satunya ya Sei Mangkei ini. Jadi, kolaborasi ini bukan hanya wacana, tapi punya dasar bahan baku yang nyata di lapangan.
Artikel Terkait
Kemenaker Diminta Efisiensi Anggaran Rp181,8 Miliar oleh Kemenkeu
Pemerintah Turunkan Biaya Haji 2026 Rp 2 Juta di Tengah Lonjakan Harga Avtur
Ledakan di Bogor Subuh Tadi Rusak Sekolah, Belajar Dialihkan ke Daring
Garuda Indonesia Sesuaikan Harga Tiket Imbas Aturan Bahan Bakar dan Stimulus Pajak