Di sisi lain, Gus Ipul melihat momen ini bukan sekadar soal memanfaatkan aset. Ia berharap penggunaan mobil listrik bisa memulai transformasi budaya kerja baru di lingkungannya lebih hemat energi dan tentu saja, lebih ramah lingkungan.
“Insyaallah selama di dalam kota, insyaallah kita akan gunakan ini. Saya sama Pak Wamen akan gunakan ini seterusnya,” tekadnya.
Namun begitu, rencana yang lebih besar masih digodok. Pihak Kemensos masih mengkaji kemungkinan menggunakan mobil listrik serupa untuk operasional Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Pertimbangannya praktis: apakah ekosistem pendukungnya, seperti stasiun pengisian daya, sudah memadai?
“Kita masih lagi menghitung apakah ada ekosistem yang mendukung penggunaan mobil listrik di sekolah-sekolah rakyat itu,” kata Gus Ipul.
Kemungkinannya, untuk kota-kota besar mungkin bisa. Tapi untuk daerah terpencil? Masih harus realistis. “Jika memungkinkan mungkin untuk yang di kota-kota besar bisa kita kirimkan atau pengadaan mobil listrik. Tapi untuk di daerah-daerah yang mungkin di remote area ya kita tentu masih menggunakan mobil konvensional. Tapi ini bagian dari transformasi,” pungkasnya.
Langkah kecil hari ini, barangkali, adalah awal dari sebuah pergeseran yang lebih besar.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Aman dan Biaya Turun Rp2 Juta
Pemerintah Jamin Biaya Haji 2026 Tak Naik Meski Ada Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Alokasikan Rp1,77 Triliun APBN untuk Tanggung Kenaikan Biaya Haji Akibat Lonjakan Avtur
Presiden Prabowo Tegaskan Kunjungan Luar Negeri untuk Jamin Pasokan Minyak