Di sisi lain, kondisi pasar memang sedang sangat mendukung. Lembaga riset TrendForce memprediksi harga chip DRAM masih akan naik lebih dari 50% di kuartal ini, didorong oleh kelangkaan pasokan yang belum juga teratasi. Faktor eksternal lain yang menguntungkan adalah melemahnya nilai won terhadap dolar AS, yang mencapai level terendah dalam 17 tahun terakhir. Hal ini secara otomatis meningkatkan nilai pendapatan Samsung yang sebagian besar dalam mata uang dolar.
Meski begitu, tidak semua divisi di Samsung bernasib sama. Analis memperkirakan, meski bisnis chip memorinya mencetak laba operasional fantastis sekitar 54 triliun won, divisi chip logika justru masih menanggung kerugian sekitar 1,6 triliun won.
Namun, kabar baik juga datang dari lini bisnis lain. Sebagai produsen ponsel pintar terbesar kedua di dunia, kinerja divisi ponsel Samsung di kuartal I-2025 ternyata lebih baik dari perkiraan, dengan laba mencapai 4 triliun won.
Secara keseluruhan, perusahaan asal Suwon ini memperkirakan pendapatannya pada Januari-Maret 2026 akan melonjak 68% menjadi 133 triliun won. Semua angka dan detail kinerja resmi ini rencananya akan diumumkan oleh Samsung pada tanggal 30 April mendatang. Kita tunggu saja.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Terapkan WFH Jumat dengan Pengawasan Ketat dan Aturan Khusus
KPK Kaji Ulang Dokumen, Panggilan Lanjutan untuk Ridwan Kamil Masih Tunggu Kepastian
BPUD Geber Konsolidasi 15 BUMN Logistik, Target Rampung dalam Sebulan
Amar Bank Catat Laba Tertinggi Rp249,6 Miliar di 2025, Kredit Tumbuh 35,7%