Ini agak kontras dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut pembicaraan dengan Teheran "produktif".
Semua ketegangan ini berakar dari sebuah peristiwa pada akhir Februari 2026. Saat itu, serangan gabungan AS dan Israel mengguncang Iran. Korban sipil berjatuhan, dan yang mengejutkan, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dilaporkan menjadi salah satu korbannya. Iran tidak tinggal diam. Balasan datang bertubi-tubi: wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah menjadi sasaran.
Tapi langkah paling strategis justru yang terakhir. Iran mengambil alih kendali penuh atas Selat Hormuz. Bayangkan, selat sempit itu adalah urat nadi energi global sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia melewatinya. Dengan menutupnya, Iran memegang kartu truf yang sangat kuat di tengah meja perundingan yang panas.
Sekarang, semua mata tertuju pada tanggal 7 April yang sudah lewat itu. Ultimatum telah diucapkan, ancaman digantungkan. Apa yang terjadi selanjutnya, entah eskalasi atau jalan mundur, masih menjadi tanda tanya besar.
Artikel Terkait
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia
Pertamina Siapkan Strategi Lima Pilar Hadapi Gejolak Energi Global 2026
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global