Ia juga menyoroti soal LPG. Selama ini LPG lebih dilihat sebagai sumber energi, sehingga dikenai bea masuk. Padahal, menurutnya, material ini sangat mungkin dijadikan bahan baku alternatif untuk industri petrokimia.
"Karena itu kami berharap pemerintah dapat mengkaji ulang kebijakan terkait penggunaan LPG atau propana sebagai bahan baku," tutur Fajar.
Dampak dari semua penyesuaian ini, tentu saja, akan merambat ke seluruh rantai. Mulai dari produsen besar hingga pedagang kecil di pasar tradisional akan merasakan efeknya. Fajar pun tak menampik bahwa harga produk plastik di pasaran berpotensi naik setelah Lebaran nanti.
Tapi ia melihatnya sebagai sebuah penyesuaian yang wajar. Pasar akan mencari titik keseimbangan barunya sendiri.
"Yang jelas harga akan menemukan keseimbangan baru. Tidak mungkin kembali seperti sebelum krisis akibat perang ini," pungkasnya.
Jadi, situasi sulit ini rupanya memicu kreativitas. Industri plastik kita dipaksa berbenah, mencari cara agar tetap bisa bernapas di tengah gejolak pasokan global.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Akui Validasi Pengaduan JAKI Pakai Foto AI, Kelurahan Ditegur
Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim