Target Penerimaan Migas Jeblok, Bahlil Soroti Harga Minyak yang Anjlok

- Kamis, 08 Januari 2026 | 15:36 WIB
Target Penerimaan Migas Jeblok, Bahlil Soroti Harga Minyak yang Anjlok

Target penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi tahun ini ternyata meleset. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui hal itu dengan nada yang cukup gamblang. Realisasinya cuma sekitar Rp 105,4 triliun.

Padahal, pemerintah menargetkan angka yang jauh lebih tinggi: Rp 125,46 triliun. Kalau dihitung-hitung, pencapaian itu baru menyentuh 83,7 persen dari yang diharapkan.

“Karena itu pendapatan negara kita untuk di sektor Migas mencapai Rp 105,4 triliun. Dari target Rp 125 triliun, jadi totalnya kurang lebih sekitar 83 persen,”

Bahlil menyampaikan penjelasannya dari Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis lalu. Soal penyebabnya, ia menunjuk langsung pada kondisi pasar global yang lagi lesu.

Dalam APBN, asumsi harga minyak Indonesia (ICP) diletakkan di angka USD 82 per barel. Sayangnya, harapan tinggal harapan. Kenyataannya sepanjang 2025, harga minyak dunia rata-rata cuma berkutat di USD 68 per barel. Jelas jauh melorot.

Di sisi lain, produksi atau lifting minyak kita sebenarnya tidak buruk. Angkanya mencapai 605,3 ribu barel per hari. Tapi ya itu tadi, harga yang anjlok bikin pendapatan ikut terpangkas.

“Itu berdampak, begitu harganya tidak sampai USD 82, itu berdampak pada pendapatan negara kita. Lifting kita tercapai tapi harganya memang lagi turun. Memang harga komoditas sekarang lagi turun semua,”

Meski begitu, bukan berarti sektor energi sepi investasi. Bahlil memaparkan, total investasi di sektor ESDM sepanjang tahun ini mencapai USD 31,7 miliar. Rinciannya, minerba menyumbang USD 6,7 miliar, migas dominan dengan USD 18 miliar, lalu listrik USD 4,6 miliar, dan EBTKE sekitar USD 2,4 miliar.

Tapi ada catatan. Dibanding tahun sebelumnya, investasi untuk listrik ternyata mengalami koreksi.

“Pasti teman-teman tanya, dibandingkan dengan 2024 dan 2025, investasi ada terjadi koreksi. Di mana koreksinya? Di listrik,”

Menyikapi hal ini, Bahlil berencana segera duduk bersama dengan PT PLN. Fokusnya adalah mendorong percepatan pembangunan pembangkit-pembangkit baru yang sudah tercantum dalam RUPTL.

“Ini saya lihat memang butuh effort dan kerja keras agar bisa tercapai,”

Ucapannya menutup penjelasan dengan nada realistis, mengakui bahwa jalan menuju target itu masih perlu perjuangan ekstra.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar