Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Tarif dan Dilema bagi Maskapai Penerbangan

- Minggu, 05 April 2026 | 13:15 WIB
Lonjakan Harga Minyak Picu Kenaikan Tarif dan Dilema bagi Maskapai Penerbangan

Contoh nyatanya bisa dilihat dari Cathay Pacific. Maskapai asal Hong Kong itu sudah dua kali menaikkan biaya tambahan bahan bakar dalam sebulan terakhir. Dampaknya langsung terasa di kantong penumpang: untuk rute Sydney-London pulang-pergi, ada tambahan biaya sekitar Rp13 juta.

Ini jadi persoalan serius. Tahun lalu sebenarnya lalu lintas penumpang global sempat cetak rekor, naik sekitar 9% di atas level sebelum pandemi. Tapi semua itu terjadi di tengah masalah rantai pasokan yang belum benar-benar pulih, yang menghambat pengiriman pesawat baru.

Nah, kenaikan tarif yang dibutuhkan sekarang ini besar sekali. Dan itu datang pas saat konsumen juga sedang tertekan oleh biaya hidup yang makin tinggi. Pengeluaran untuk hal-hal seperti liburan bisa jadi yang pertama dikurangi.

Maskapai berbiaya rendah diperkirakan akan paling terpukul. Penumpang mereka umumnya jauh lebih sensitif terhadap perubahan harga dibandingkan pelanggan korporat atau kalangan yang lebih mampu.

Sebenarnya ada solusi jangka panjang: mengganti armada tua yang boros dengan pesawat lebih hemat bahan bakar. Namun, rencana itu terbentur realita. Kekurangan rantai pasokan pasca-pandemi dan masalah teknis pada mesin generasi terbaru membuat pengiriman pesawat baru molor dari jadwal.

Jadi, mereka terjepit. Di satu sisi, biaya melambung. Di sisi lain, ada batas seberapa mahal tiket yang bisa dijual tanpa membuat penumpang kabur. Menarik untuk dilihat bagaimana mereka keluar dari dilema ini dalam bulan-bulan mendatang.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar