Harga tiket pesawat mulai merangkak naik. Pemicunya? Lonjakan harga minyak yang terjadi belakangan ini, yang langsung berdampak pada biaya bahan bakar jet. Maskapai di berbagai negara terpaksa mengambil langkah ini untuk menutup kerugian.
Tapi, di sisi lain, situasinya nggak sesederhana itu. Ada dilema yang nyata. Kenaikan tarif berisiko bikin konsumen mengerem niat terbang, apalagi di tengah daya beli yang lagi lemah. Mereka bisa memilih untuk menunda atau bahkan membatalkan rencana perjalanan.
Padahal, sebelum ketegangan AS-Israel dengan Iran memanas bulan lalu, prospek industri ini terlihat cerah. Prediksinya, keuntungan global bisa mencapai USD41 miliar pada 2026. Sayangnya, ancaman baru datang dari harga bahan bakar pesawat yang melonjak dua kali lipat. Target itu pun sekarang dipertanyakan kembali, memaksa para eksekutif maskapai memutar otak mencari strategi baru.
Menurut laporan dari CNA awal April, responsnya beragam. Beberapa maskapai besar, sebut saja United Airlines dan Air New Zealand, memilih mengurangi kapasitas penerbangan sekaligus menaikkan tarif. Yang lain memilih memberlakukan biaya tambahan bahan bakar secara terpisah.
Scott Kirby, CEO United Airlines, memberikan gambaran yang cukup jelas tentang betapa besarnya tekanan ini.
"Tarif perlu dinaikkan sekitar 20 persen hanya untuk menutupi kenaikan biaya bahan bakar," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan ABC News.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim
Libur Paskah Dongkrak Omzet Sewa Sepeda Ontel di Kota Tua Jakarta
Industri Plastik Berinovasi Cari Formula Baru Imbas Gangguan Pasokan Global