Lebih detail lagi, Rahmat menyebut episenter ada di Punggungan Mayu dengan mekanisme sesar naik. Nah, jenis patahan seperti inilah yang punya potensi besar memicu tsunami ketimbang sesar mendatar.
"Makanya, kami segera mengeluarkan warning karena sesar naik itu potensi menimbulkan tsunaminya sangat tinggi dibandingkan dengan yang mekanisme mendatar ya," tuturnya.
"Jadi, dan kami sudah segera merilis peringatan dini tsunami di beberapa wilayah terdampak."
Peringatan itu ternyata tepat. Data dari Tide Gauge atau alat pengukur pasang surut mencatat tsunami memang terjadi. Gelombangnya terdetksi di beberapa lokasi dengan ketinggian bervariasi.
Di Halmahera Barat, air laut naik 0,30 meter pukul 06.08 WIB. Menyusul Bitung (0,20 m), Sidangoli (0,35 m), lalu Minahasa Utara yang mencatat kenaikan tertinggi 0,75 meter. Terakhir, di Belang tercatat 0,68 meter.
Rangkaian kejadian ini, mulai dari gempa utama, ratusan susulan, hingga tsunami kecil, menjadi pengingat betapa aktif dan dinamisnya lempeng bumi di kawasan itu. Warga pun diharapkan tetap waspada.
Artikel Terkait
Tips Hindari Kekacauan Saat Libur Panjang Akhir Pekan
Harga Cabai Anjlom, Bawang Merah dan Ayam Naik Tipis Menurut BI
Harga Emas di Pegadaian Masih Stabil, Galeri24 dan UBS Bertahan di Rp 2,87 Juta per Gram
Justin Hubner Terancam Izin Kerja di Belanda Meski Berstatus Homegrown di Inggris