Belum lagi realisasi penjualan beras lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang mencapai 66,84 ribu ton di bulan yang sama. Keberadaan beras SPHP ini diharapkan bisa jadi pilihan bagi masyarakat untuk dapatkan beras berkualitas dengan harga yang relatif lebih terjangkau.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, pergerakan inflasi masih banyak dipengaruhi komponen harga bergejolak. Beberapa bahan pokok seperti daging ayam ras, beras, telur ayam, cabai rawit, dan daging sapi masih jadi penyumbang utama. Kontribusinya bahkan lebih tinggi dibanding inflasi inti atau harga yang diatur pemerintah.
"Inflasi Maret 2026 sebesar 0,41 persen ini utamanya dipicu kenaikan harga bergejolak sebesar 1,58 persen. Sektor ini memberi sumbangsih paling signifikan, sekitar 0,27 persen," jelas Ateng.
Nah, kalau kita lihat tren tiga tahun terakhir, biasanya setelah Idulfitri selalu diikuti deflasi pangan. Contohnya, tahun 2024, inflasi pangan Maret 2,16 persen berbalik jadi deflasi 0,31 persen di April. Pola serupa terulang di 2025, dari 1,96 persen di Maret menyusut jadi deflasi tipis 0,04 persen di bulan berikutnya.
Tapi tahun 2026 ini lain cerita. Tren musiman itu berhasil dipatahkan. Inflasi pangan bertahan di zona positif yang wajar, yakni 1,58 persen. Ini mengindikasikan pasokan dan harga di pasar jauh lebih stabil ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Untuk inflasi tahunan, BPS melaporkan angka Maret 2026 masih dalam koridor target pemerintah, yaitu 3,48 persen. Posisi ini turun dari bulan sebelumnya yang 4,76 persen. Sementara inflasi pangan tahunan juga sedikit melunak, menjadi 4,24 persen dari sebelumnya 4,64 persen.
Artikel Terkait
Libur Panjang Jumat Agung, 30 Ribu Penumpang Berangkat dari Stasiun Daop 1 Jakarta
Truk Tabrak Motor di Kalideres, Satu Tewas dan Satu Luka
Stasiun Pasar Senen Paling Ramai Saat Libur Panjang Jumat Agung
Dewa United Kalahkan PSIM 1-0 Berkat Penalti Alex Martins