Putin dan Erdogan Desak Gencatan Senjata Segera di Timur Tengah

- Jumat, 03 April 2026 | 22:35 WIB
Putin dan Erdogan Desak Gencatan Senjata Segera di Timur Tengah

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru saja mengadakan pembicaraan telepon. Topik utamanya? Situasi mencekam di Timur Tengah. Keduanya, menurut laporan, mendorong agar gencatan senjata segera diwujudkan.

Percakapan itu terjadi hari Jumat (3/4/2026), seperti dilaporkan AFP. Dari Moskow, Kremlin mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin itu memang membahas konflik yang berkecamuk di kawasan tersebut.

Intinya, posisi mereka sejalan. Mereka sepakat mendesak dihentikannya tembak-menembam, dan menekankan pentingnya sebuah perjanjian damai. Menurut pernyataan resmi dari Kremlin, ada poin-poin khusus yang ditekankan.

"Para pemimpin mencatat kesamaan posisi mereka mengenai perlunya gencatan senjata segera dan pengembangan perjanjian perdamaian kompromi yang mempertimbangkan kepentingan sah semua negara di kawasan tersebut,"

Pernyataan itu juga menyoroti dampak luas dari pertikaian ini. Konflik dinilai bukan cuma masalah regional.

"Telah dicatat bahwa aksi militer yang intensif menyebabkan konsekuensi negatif yang serius tidak hanya di tingkat regional tetapi juga global, termasuk di bidang energi, perdagangan, dan logistik,"

Eskalasi yang memicu kekhawatiran dunia ini sendiri berawal dari serangan Israel dan AS terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Serangan pada 28 Februari itu dikabarkan menewaskan lebih dari 1.340 orang. Korban yang disebutkan termasuk Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu masih menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi.

Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan meluncurkan serangkaian drone dan rudal. Sasaran tidak hanya Israel, tapi juga Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang diketahui menampung aset militer Amerika. Imbasnya, korban jiwa berjatuhan, infrastruktur hancur, dan yang jelas gangguan besar terasa di pasar global dan lalu lintas penerbangan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar