Maka, pelaksanaannya harus hati-hati. Dunia usaha, bagaimanapun, tetap punya kewajiban menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan publik. Bob pun mewanti-wanti. Bagi sektor industri yang bergerak di produksi barang dan jasa, menerapkan WFH jelas bukan hal mudah. Bahkan, hampir mustahil.
"Yang jelas untuk industri enggak mungkin lah itu (WFH) diterapkan. Justru industri sedapat mungkin bisa memacu produksinya," katanya.
Namun begitu, bukan berarti tak ada ruang sama sekali. Untuk divisi back office atau pekerjaan administratif, WFH masih sangat mungkin. "Jangankan sehari, mungkin dua hari juga bisa," tambah Bob. Artinya, kebijakan ini harus benar-benar selektif, tidak bisa disamaratakan.
Latar belakang semua pembicaraan ini, tentu saja, adalah situasi global yang memanas. Konflik antara AS-Israel dan Iran telah memukul fasilitas energi krusial di Timur Tengah. Blokade militer Iran di Selat Hormuz semakin memperkeruh keadaan, mengganggu distribusi minyak global.
Indonesia pun terkena imbasnya. Sejumlah kapal tanker, termasuk milik Pertamina, dikabarkan masih tertahan di sekitar selat vital tersebut. Ketersediaan cadangan migas pun jadi taruhannya. Dalam situasi seperti inilah, wacana WFH muncul bukan sekadar soal kenyamanan, tapi sebagai langkah antisipasi yang penuh perhitungan.
Artikel Terkait
DK PBB Segera Voting Resolusi Keamanan Selat Hormuz di Tengah Penolakan China-Rusia
DPR: Pemerintah Pertimbangkan Subsidi Avtur untuk Tekan Kenaikan Tarif Pesawat
Timnas Indonesia U-17 Tumbang dari India, Lanjutkan Tren Negatif Jelang Piala AFF
Dude Herlino dan Alyssa Soebandono Diperiksa Bareskrim Terkait Kasus DSI