Di sisi lain, kebijakan pemerintah pusat dinilai sangat mendukung. Diskontol tarif tol dan transportasi umum, program mudik gratis, plus kebijakan kerja dari rumah atau dari kantor (WFA/WFH) berhasil memecah kepadatan. Pelarangan operasional truk tronton (sumbu tiga) selama periode tertentu juga berdampak nyata pada kelancaran.
Meski memberi apresiasi, Kapolri tetap menyisipkan catatan. Ia meminta jajarannya untuk tidak berpuas diri. Evaluasi mendatang harus segera dilakukan untuk menyempurnakan pelayanan di Operasi Ketupat tahun depan.
Menyambut arahan itu, Irjen Agus pun memberi instruksi kepada seluruh pejabat di bawahnya. Ia menekankan, momentum positif ini harus dijaga. Caranya? Dengan terus mengedepankan pelayanan yang menyentuh hati masyarakat, bahkan setelah operasi besar usai.
"Mari semua terus menjaga marwah Polri melalui tugas-tugas di bidang lalu lintas, serta menjabarkan program-program Polantas Menyapa dan Melayani," tegas Agus.
Pendekatannya harus berubah. Agus menitikberatkan pada metode dialog dan pendekatan super humanis. Menurutnya, menciptakan kesadaran berlalu lintas tidak bisa hanya mengandalkan tilang dan penegakan hukum semata. Edukasi yang santun dan komunikasi yang baik adalah kunci menuju kamseltibcarlantas yang lebih baik.
Dengan komitmen pada pendekatan yang lebih solutif dan manusiawi ini, Korlantas Polri berharap bisa terus menekan angka kecelakaan di masa yang akan datang. Kehadiran petugas di lapangan diharapkan bukan lagi sebagai "penghukum", tapi sebagai sahabat pengendara yang siap membantu.
Artikel Terkait
Gempa M 7,6 Guncang Bitung, Satu Korban Jiwa Ditemukan dalam Reruntuhan
Gempa M 7,6 Guncang Sulawesi Utara, Warga Mengungsi ke Dataran Tinggi
Kunjungan Prabowo ke Korea Hasilkan Komitmen Investasi Rp173 Triliun
Prabowo Beri Keris dan Penjelasan Filosofis kepada Presiden Korea Selatan