Lalu, apa untungnya? Setidaknya ada tiga poin utama. Pertama, soal efisiensi biaya. Dengan transaksi memakai mata uang lokal langsung, biaya konversi valas yang mahal bisa ditekan. Kurs yang dipakai juga real-time, sehingga risiko fluktuasi drastis dapat diminimalkan.
Kedua, ini mengurangi ketergantungan pada Dolar AS untuk transaksi ritel antar negara. Ekonomi jadi lebih stabil, biaya transaksi pun turun.
Yang ketiga, dampaknya lebih makro. Ekspansi QRIS ini memperkuat kedaulatan digital Indonesia dan memfasilitasi integrasi ekonomi digital di Asia. Bukan tidak mungkin nanti akan merambah ke seluruh dunia.
Namun begitu, tentu ada tantangan yang menunggu di depan. Menyamakan persepsi dan regulasi antar negara bukan perkara mudah. Kesiapan infrastruktur dan kendala teknis konversi mata uang juga perlu diantisipasi dengan serius.
Meski demikian, perkembangan QRIS dari sekadar alat bayar domestik menjadi jembatan ekonomi global adalah capaian yang patut diapresiasi. Ia telah mengubah cara bertransaksi, dan yang lebih penting, menghubungkan UMKM Indonesia dengan pasar yang lebih luas. Langkah BI ini terasa progresif. Tinggal menunggu eksekusinya saja nanti.
Artikel Terkait
Jasad Pria yang Dilaporkan Hilang Ditemukan Terkubur di Lahan Kosong Cikeas
Arus Balik Lebaran 2026: Kedatangan Penumpang di Stasiun Jakarta Capai 52.471 Orang
OJK Prediksi Dua hingga Tiga Bank Naik Kelas ke KBMI 4 pada 2026
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Beckham Putra Siap Perjuangkan Tempat