Vidon menambahkan, keputusan untuk memberlakukan kapal khusus baru akan diambil jika kepadatan sudah mulai terasa. “Nanti kita lihat kepadatannya baru kita menggunakan skema khusus. Karena sekarang masih tergolong lancar.”
Di sisi lain, ada fenomena menarik yang terjadi. Arus balik tahun ini terasa lebih sepi dibandingkan biasanya. Vidon punya analisis tersendiri mengenai hal ini.
“Jadi kalau kita lihat mungkin karena liburannya lebih panjang,” tuturnya.
Dia menduga, masa libur yang panjang setelah Idul Fitri 1477 Hijriah atau 2026 membuat masyarakat punya banyak pilihan waktu untuk pulang. Mereka tidak buru-buru dan tidak semuanya berangkat bersamaan dalam satu hari. Alhasil, kemacetan parah dan kepadatan ekstrem di pelabuhan bisa dihindari.
“Beda kalau kemarin kita itu pasti ngejar lebaran di kampung. Tapi kalau balik itu mereka justru memilih alternatif macam-macam,” pungkas Vidon.
Jadi, meski skenario sudah disiapkan, pelaksanaannya masih menunggu situasi. Semuanya tergantung pada gelombang pemudik yang akan datang nanti.
Artikel Terkait
KRI Prabu Siliwangi-321 Tiba di Indonesia, Lakukan Latihan Bersama di Selat Sunda
IEA Desak Penerapan WFH dan Ganjil-Genap Atasi Lonjakan Harga Energi Global
Pemprov DKI Uji Coba WFA untuk ASN Usai Lebaran 2026 dengan Aturan Ketat
Trump Usulkan AS dan Iran Kelola Bersama Selat Hormuz