Di tengah kabar yang simpang siur soal masa depan Neta Auto di Indonesia, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, memberikan penjelasan. Ia menanggapi dampak restrukturisasi perusahaan induk di China terhadap operasional merek listrik asal Tiongkok itu di sini.
Intinya, status Neta sebagai anggota Gaikindo masih diakui. "Secara keanggotaan masih," tegas Kukuh saat ditemui di Jakarta. Menurutnya, masalah yang terjadi ada di level pusat perusahaan. "Mereka kan yang bermasalah di pusatnya, jadi mereka masih bagian dari kita," ujarnya.
Kukuh tampaknya masih optimis. Ia yakin Neta Auto bisa segera bangkit dari proses restrukturisasi ini, sehingga bisnisnya di dalam negeri kembali normal. Meski begitu, ia mengaku belum mendapat laporan terbaru dari pihak perusahaan.
Keyakinannya punya alasan. "Tetapi mereka kan sudah ekspansi salah satunya ke Indonesia," jelas Kukuh. Rupanya, Indonesia dianggap sebagai pasar yang kinerjanya masih menjanjikan. "Mereka berharap ternyata Indonesia salah satu yang kinerjanya masih ada, jadi mereka berharap itu bisa dipertahankan," terangnya.
Lantas, apakah Neta bisa dicoret begitu saja dari keanggotaan Gaikindo? Ternyata tidak semudah itu. Kukuh bilang, ada proses panjang yang harus dilalui. "Kalau mereka masih jadi anggota ya tidak bisa. Selama belum ada permintaan, nanti menyalahi kan ada aturannya," pungkasnya. Ia mengingatkan, Neta datang dulu dengan niat jadi anggota. "Mereka waktu itu datang minta jadi anggota, ya kita tampung, kita bantu."
Bisnis Neta Auto di Ujung Tanduk?
Di lapangan, situasinya memang tidak mudah. Operasional Neta di Indonesia sedang memasuki fase penyesuaian yang cukup ketat, mengikuti gelombang restrukturisasi Hozon Auto di China sejak 2025. PT Neta Auto Indonesia (NAI) sendiri bersikukuh bahwa merek ini akan tetap ada di Indonesia. Hanya saja, strategi dan sistem operasionalnya yang disesuaikan dengan kondisi global perusahaan.
Irvan Mustafa, Head of Marketing PT NAI, mengungkapkan pihaknya masih memantau langsung perkembangan dari pusat. Bahkan, perwakilan perusahaan dikirim untuk mengikuti proses pemulihan bisnis tersebut.
"Jadi untuk 2026 sendiri kalau kita berbicara soal keberadaan itu masih tetap akan ada di Indonesia," kata Irvan. "Jadi secara ATPM kita masih ada dan saat ini kami tengah fokus benahi after sales."
Fokus pada after sales itu terwujud dalam perubahan drastis di jaringan. Layanan purna jual kini dijalankan lewat kerja sama dengan pihak ketiga, karena jaringan diler dan bengkel resmi (3S) secara resmi sudah tidak beroperasi.
"Kalau berbicara 3S boleh dibilang secara official memang sudah tidak ada," imbuh Irvan. "Makanya kami bekerja sama dengan Otoklix yang punya jaringan bengkel tersebar di Indonesia dan ada juga yang lainnya di Tangerang."
Yang lebih kritis, lini produksi lokalnya pun sudah berhenti. Produksi yang dilakukan di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM) disebut sudah hiatus sekitar enam bulan terakhir.
Wakil Presiden Komisaris PT HIM, Jongkie D. Sugiarto, mengonfirmasi hal ini. "Saat ini (produksi Neta) berhenti. Berhentinya sudah lama, enam bulan yang lalu. Sementara (mungkin)," ungkapnya.
Meski produksi terhenti, Jongkie menyebut stok masih aman. Baik bahan baku maupun unit kendaraan yang sudah dirakit masih tersimpan di fasilitas HIM. Itu sedikit cerah di tengah ketidakpastian yang menyelimuti.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun