"Daya tarik utamanya justru interaksinya," ucapnya. Ia merasa, ruang publik seperti ini membangkitkan kembali kehangatan sosial yang perlahan pudar. "Baru jalan beberapa menit, saya sudah ngobrol sama orang dari Surabaya, dari Kalimantan. Sapa-sapaan meski nggak kenal. Itu yang bikin suasana jadi hidup," cerita Dhaffa dengan antusias.
Di sisi lain, data dari pengelola kawasan membuktikan betapa ramainya lokasi ini. Hanya pada hari kedua Lebaran saja, pengunjungnya sudah menembus angka 12.689 orang. Catatan hingga siang hari Senin pun menunjukkan lebih dari 5.300 wisatawan, dengan mayoritas berasal dari dalam negeri.
Kalau dilihat langsung di lapangan, aktivitas pengunjung sangat beragam. Ada yang sibuk berfoto dengan manusia patung, ada yang bersepeda ontel keliling plaza, tak sedikit juga yang sekadar duduk-duduk santai menikmati rindangnya pepohonan. Nuansa tempo dulu semakin kental dengan kehadiran atraksi seperti noni-noni Belanda, mobil klasik, hingga replika senjata perang.
Bagi yang ingin lebih dari sekadar foto-foto, beberapa museum di kawasan itu juga terbuka. Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, atau Museum Bank Indonesia bisa jadi pilihan untuk menambah wawasan sambil menikmati kesejukan gedung tua.
Jadi, meski tak pulang kampung, Lebaran di kota besar seperti Jakarta ternyata bisa tetap berkesan. Seperti yang dirasakan Dhaffa dan ribuan pengunjung lainnya, terkadang suasana baru dan pertemuan dengan orang asing justru menghadirkan kehangatan yang tak terduga.
Artikel Terkait
ASDP Siapkan Kapal Khusus Motor untuk Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 di Bakauheni
China Batasi Kenaikan BBM Meski Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Timur Tengah
Trump Buka Pintu Negosiasi dengan Iran Setelah Ancaman Militer
BMKG Prakirakan Hujan Ringan Guyur Jakarta Sepanjang Hari Ini