Trump Buka Pintu Negosiasi dengan Iran Setelah Ancaman Militer

- Selasa, 24 Maret 2026 | 06:15 WIB
Trump Buka Pintu Negosiasi dengan Iran Setelah Ancaman Militer

WASHINGTON Sikap Donald Trump terhadap Iran berubah drastis dalam hitungan hari. Presiden AS itu, yang sebelumnya bersikeras menolak dialog dan bahkan mengancam serangan militer, tiba-tiba membuka pintu negosiasi. Perubahan arah ini mengejutkan banyak pengamat yang telah menyaksikan retorika kerasnya selama beberapa pekan terakhir.

Semuanya berawal dari pengumuman penundaan serangan yang rencananya ditujukan ke pembangkit listrik dan fasilitas energi Iran. Menurut Trump, ada kemajuan signifikan dalam pembicaraan yang berlangsung selama akhir pekan. “Komunikasi yang terjadi membuka peluang untuk penyelesaian konflik secara menyeluruh di Timur Tengah,” tulisnya di Truth Social, Senin (23/3/2026).

Padahal, cuma beberapa hari sebelumnya suasana sama sekali berbeda. Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran: buka jalur pelayaran di Selat Hormuz, atau hadapi konsekuensi serius. Saat itu, dia dengan tegas menolak negosiasi maupun gencatan senjata.

Namun begitu, retorikanya mulai melunak pada Jumat lalu.

“Kita bisa berdialog, tapi saya tidak ingin melakukan gencatan senjata,” ucap Trump waktu itu.

Perubahan sikap ini jelas terasa seperti belokan seratus delapan puluh derajat.

Di sisi lain, ketegangan di lapangan belum benar-benar reda. Iran sendiri sudah lebih dulu mengancam akan menjadikan Teluk Persia sebagai medan perang jika fasilitas energinya diserang. Peringatan dari Teheran juga termasuk rencana pemasangan ranjau untuk memblokade jalur pelayaran vital, plus serangan balasan ke pembangkit listrik Israel. Situasinya tetap rentan, meski nada dari Washington kini terdengar berbeda.

Untuk menjaga momentum dialog yang disebutnya “produktif” itu, Trump memberi tambahan waktu lima hari. Apa yang terjadi selanjutnya, tentu masih jadi tanda tanya besar. Tapi satu hal yang pasti: dinamika di kawasan ini sekali lagi membuktikan, politik luar negeri bisa berubah arah dalam sekejap.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar