Kekhawatiran mulai muncul menyambut ramalan datangnya El Nino pada April 2026. Bahkan, sejumlah pihak sudah menjulukinya "Godzilla El Nino". Julukan itu tak main-main, menggambarkan potensi dampaknya yang luas dan rumit, terutama buat kesehatan kita.
Epidemiolog asal Griffith University Australia, dr Dicky Budiman, menggarisbawahi bahwa fenomena ini jauh lebih dari sekadar soal cuaca. "Ini ancaman kesehatan yang bersifat multidimensi," tegasnya.
Peringatan serupa sebenarnya sudah disuarakan sejumlah institusi, termasuk BMKG. Mereka memprediksi El Nino bisa berkembang dari lemah menjadi kuat, dengan masa kemarau yang bakal lebih panjang ketimbang biasanya.
Multi Hazard: Ancaman Berlapis bagi Kesehatan
Menurut Dicky, El Nino 2026 berpotensi memicu berbagai kondisi ekstrem secara berbarengan. Panas yang menyengat, kekeringan, polusi udara memburuk, sampai pola hujan yang sulit ditebak.
Ia menyebut kondisi gabungan ini sebagai 'multi hazard'. Intinya, serangkaian ancaman yang langsung mengintai kesehatan manusia.
"Ini yang menciptakan kondisi multi hazard namanya, ya. Hazard ini ancaman terhadap atau risiko kesehatan berupa panas, suhu panas, kering, polusi, hujan sporadis. Ini yang sangat kompleks dari perspektif kesehatan masyarakat,"
Penjelasannya itu disampaikan kepada media pada Senin (23/3/2026).
Dampak yang paling terasa mungkin adalah polusi udara. Saat kemarau panjang, kadar polutan bisa melonjak jauh melewati ambang batas aman. Tapi itu baru satu sisi.
Kondisi ekstrem ini juga membuka pintu bagi berbagai penyakit serius. Mulai dari gangguan yang dipicu panas hingga penyakit-penyakit yang bersumber dari lingkungan.
"Risikonya, ya, akibat panas ekstrim tentu adanya heat exhaustion dan juga heat stroke fatal bahkan jika tidak ditangani cepat termasuk dehidrasi berat dan potensi gangguan ginjal akut ketika mengalami dehidrasi,"
Ucap Dicky. Ia melanjutkan, udara yang buruk jelas memicu masalah pernapasan.
"Seperti ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronik, juga penyakit kardiovaskuler,"
Belum selesai di situ. Penyakit menular pun diperkirakan ikut merangkak naik. Perubahan lingkungan, seperti air yang tercemar atau genangan yang jadi sarang nyamuk, jadi pemicunya.
"Diare akibat kuman leptospirosis atau hepatitis A juga meningkat,"
tuturnya.
"Lalu, demam berdarah juga akan meningkat. Pun malaria, karena kemarau yang panjang,"
tambahnya.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Menghadapi skenario ini, dr Dicky punya sejumlah imbauan konkret untuk masyarakat. Kewaspadaan dan langkah pencegahan harus ditingkatkan.
"Tentu proteksi dari panas, ya. Jadi hindari aktivitas di luar ruangan antara jam 10.00 sampai 15.00,"
sarannya.
Hidrasi tubuh juga kunci. Ia menekankan hal ini.
"Kemudian cukup minum, harus cukup minum. Jadi proteksi panas tuh antaranya juga harus cukup minum. 2 sampai 3 liter per hari, ya,"
Selain itu, masker bukan hanya untuk pandemi. Saat kualitas udara buruk, alat ini penting.
"Kita harus gunakan masker saat keluar ruangan, menaiki motor apalagi, ya. Dengan polusi tinggi seperti ini,"
ucapnya.
Hal-hal mendasar seperti menjaga kebersihan air dan makanan, serta memberantas sarang nyamuk, juga tak boleh dilupakan.
Di akhir perbincangan, Dicky kembali menegaskan poin pentingnya. El Nino ini bukan sekadar urusan meteorologi.
"Sekali lagi, fenomena El Nino ini bukan sekedar isu cuaca, tapi juga ancaman kesehatan masyarakat yang multi dimensi yang berbasis iklim ya,"
katanya menutup pembicaraan. Ancaman itu nyata, dan persiapan harus dimulai dari sekarang.
Artikel Terkait
Normalisasi Kali Ciliwung Baru 52 Persen, AHY Soroti Pembebasan Lahan dan Bangunan Liar
Menteri Keuangan Percepat Izin PLTS Terapung Saguling yang Terhambat Administrasi
Roy Suryo Jalani Wajib Lapor ke-25 di Polda Metro Jaya Akibat Laporan Jokowi soal Ijazah Palsu
Kemenag Larang Ziarah Sebelum Puncak Haji, Jemaah Diminta Fokus Persiapan Armuzna