Produksi Grasberg Block Cave Freeport Diprediksi Normal dalam 2-3 Minggu

- Senin, 23 Maret 2026 | 09:00 WIB
Produksi Grasberg Block Cave Freeport Diprediksi Normal dalam 2-3 Minggu

Operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) diprediksi bakal normal lagi. Ini kabar baik, setelah produksi sempat tersendat karena insiden longsor yang terjadi beberapa waktu lalu. Menurut rencana, proses pemulihan ini akan selesai dalam waktu dekat.

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menjelaskan bahwa pemulihan fokus di dua titik: production block 2 dan 3. Sementara untuk block 1, baru akan menyusul di tahun depan.

"Mulai 2-3 minggu ke depan kira-kira akan mulai kita ramp up lagi produksi di Grasberg Block Cave ya. Itu di production block 2 dan production block 3. Yang production block 1 masih tahun depan (2027),"

Ucap Tony saat dijumpai di kawasan Widya Candra, Jakarta, Sabtu malam (21/3/2026).

Di sisi lain, perusahaan punya target yang cukup ambisius untuk tahun ini: 1,1 miliar pound tembaga dan 800.000 troy ounces emas. Angka yang tidak main-main. Namun begitu, Tony mengakui bahwa jalan menuju target itu tidak mulus. Ada kendala teknis yang harus dihadapi, belum lagi soal biaya operasional yang membengkak.

"Tahun ini tantangannya, tentu ada biaya-biaya akan lebih mahal, tapi dari tantangan produksinya ya kita lagi menyelesaikan, akan segera mulai menambang di production block 2 dan 3 di Grasberg Block Cave,"

tuturnya.

Fokus manajemen saat ini sederhana: menyelesaikan hambatan di lapangan agar peningkatan produksi bisa segera dimulai. "Ya tantangan teknis, lebih banyak tantangan teknis. Tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat 2-3 minggu ke depan kita sudah mulai bisa produksi di situ dan akan mulai ramp up," tambah Tony.

Sebagai Sekjen Indonesia Mining Association (IMA), Tony punya perspektif lain. Ia menekankan bahwa kebijakan perusahaan lebih berfokus pada hal-hal operasional yang bisa mereka kendalikan sendiri. Bukan cuma mengejar laba, yang sangat rentan dengan gejolak harga komoditas di pasar global.

"Pendapatannya kalau pendapatan itu kan tergantung dengan harganya. Tapi kan kita rencana produksinya, kami selalu merencanakan yang bisa kami kendalikan. Kalau harga kan bukan kita yang mengendalikan,"

katanya menegaskan.

Maka, prioritas utama adalah pengendalian produksi dan efisiensi operasional. Itulah kunci untuk menjaga keberlangsungan tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia ini. "Jadi kita kendalikan yang kita bisa kendalikan adalah produksi dan lain sebagainya, operasional, itu yang kita punya target. Bukan target keuntungan," pungkas dia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar