Namun derap kuda pasukannya telah cukup membuat orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang yang masih hidup menjadi bingung dan berkecil hati, seolah-olah kuda-kuda itu berada di segala jurusan.
Baca Juga: Dasar Licik! Ki Tambak Wedi Manfaatkan Sanakeling untuk Melawan Pasukan Untara
Ketika Untara mendengar Sanakeling menjawab maka ia berkata pula, “Sanakeling, apakah kau masih tetap merasa bahwa pasukanmu cukup kuat untuk melawan Pajang?”
Dari balik segerumbul perdu Sanakeling melihat kepada Untara yang duduk di atas punggung kuda.
Di belakangnya beberapa prajurit berkuda mengawalnya dengan kuat. Ujung-ujung pedang berkilat-kilat tersentuh oleh sinar matahari pagi yang semakin lama menjadi semakin cerah.
“Jumlah kami masih cukup!” teriak Sanakeling. “Jangan menyangka bahwa karena pertengkaran kecil di antara kami maka kekuatan kami menjadi susut.”
Untara tertawa. Katanya, “Apakah kau sangka kami di sini tidak melihat mayat yang bergelimpangan di halaman, di bawah rumpun-rumpun bambu dan gerumbul-gerumbul liar di kebun belakang, di jalan-jalan, bahkan bergayutan di pagar-pagar batu yang rendah itu?”
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: tajuk24.com
Artikel Terkait
Gempa M 7,6 Guncang Sulawesi Utara, Warga Mengungsi ke Dataran Tinggi
Kunjungan Prabowo ke Korea Hasilkan Komitmen Investasi Rp173 Triliun
Prabowo Beri Keris dan Penjelasan Filosofis kepada Presiden Korea Selatan
Indonesia Desak Investigasi PBB Usai Serangan Mematikan ke Pasukan Perdamaian di Lebanon