Dalam upaya menghemat konsumsi BBM, pemerintah akhirnya mengambil langkah. Kebijakannya? Memberlakukan work from home atau WFH setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara. Latar belakangnya tak lepas dari situasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran.
Pengumuman resmi ini disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto lewat konferensi pers daring, Selasa lalu. Menurutnya, langkah ini bukan hal baru yang muncul tiba-tiba. Ini bagian dari delapan transformasi budaya kerja nasional, sebuah langkah adaptif sekaligus preventif.
"Mengapa dipilih Jumat?" tanya Airlangga.
Lalu ia menjawab sendiri. "Karena memang sebagian kementerian sudah menerapkannya. Sistem kerja empat hari dalam seminggu dengan aplikasi, ini kan pengalaman pasca COVID kemarin," jelasnya.
Alasan lainnya, beban kerja di akhir pekan itu dinilai tak sepadat hari-hari biasa. Senin sampai Kamis biasanya lebih padat. Namun begitu, Airlangga menegaskan bahwa pelayanan publik sama sekali tidak boleh terganggu. "Tetapi pelayanan publik itu tetap berjalan," tegasnya.
Kebijakan ini, kata Airlangga, sudah melalui perhitungan matang berdasarkan pengalaman pandemi. Tujuannya ganda: mendorong kerja digital dan meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.
Di sisi lain, respons pun datang dari Senayan. Mereka memberikan dukungan, tapi tak lupa menyelipkan catatan penting terkait penerapannya. Rupanya, penetapan hari WFH yang berdekatan dengan libur akhir pekan ini menyisakan sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab.
Artikel Terkait
Penyembelihan Hewan Kurban di Masjid Istiqlal Dimulai, Sapi Presiden Prabowo Berbobot 1,3 Ton
Pengemudi BYD Denza di Tangerang Ditilang Usai Modifikasi Pelat Nomor Mirip Kendaraan Pejabat
KRL Duri–Tangerang Mogok, Dua Perjalanan Dibatalkan, KAI Commuter Lakukan Investigasi
Razman Arif Nasution Siap Jalani Vonis 1,5 Tahun Penjara Usai Kasasi Ditolak MA