Di sisi lain, kesiapsiagaan ini bukan sekadar wacana. Perusahaan telah menyiapkan skema khusus, termasuk pengaturan jadwal operasional dan penempatan personel di titik-titik vital. Infrastruktur strategis seperti bendungan dan PLTA yang mereka kelola akan diawasi ekstra ketat.
Koordinasi internal juga diperkuat. Imam menambahkan, pengelolaan air adalah layanan publik yang tak boleh berhenti. Karena itu, antar divisi dan unit kerja harus kompak. Tujuannya agar setiap potensi masalah bisa diatasi dengan cepat, sebelum berlarut-larut.
Tak cuma mengandalkan manusia, teknologi pun dipakai. Pemantauan kondisi hidrologi dilakukan secara berkala lewat infrastruktur digital. Cara ini memungkinkan pengaturan operasi air dilakukan dengan lebih presisi, menyesuaikan kebutuhan riil di lapangan.
Semua langkah itu pada dasarnya adalah upaya menjaga keseimbangan yang rumit. Antara ketersediaan air, tuntutan layanan, dan tentu saja, keberlanjutan sumber daya itu sendiri untuk masa depan.
Perlu diingat, wilayah kerja Jasa Tirta II cukup luas. Mereka mengelola air di daerah aliran Sungai Citarum, sebagian Ciliwung-Cisadane, Cimanuk-Cisanggarung, Cidanau-Ciujung-Cidurian, serta Seputih-Sekampung. Cakupannya tidak main-main.
Artikel Terkait
Sandy Walsh Cetak Gol, Buriram United Hajar Chonburi FC 5-0
Tim SAR Temukan Tujuh Awak Kapal Gandha Nusantara 17 Selamat di Maluku Utara
Cahaya Hati Awards 2026 Apresiasi Kontribusi Korporasi hingga Sosial
Arus Mudik Lebaran Mulai Meningkat di Tol Keluar Jakarta