“Empat tahun lalu, saya sudah mengajak Clarence Seedorf untuk posisi ini, tapi saat itu waktunya belum tepat. Sekarang, ini adalah momen yang sempurna bagi Clarence dan Patrick untuk memulai perjalanan indah bersama Suriname,” ujarnya, Minggu (15/3/2026).
Misi mereka spesifik: mempersenjatai skuad Suriname dengan pengalaman kelas dunia demi mengatasi Bolivia di play-off tanggal 26 Maret nanti. Kalau berhasil menang, tantangan selanjutnya adalah Irak di partai final. Satu tiket terakhir ke Piala Dunia jadi taruhannya.
Buat Patrick Kluivert, tantangan ini terasa seperti misi penebusan. Pelatih yang sempat menangani Timnas Indonesia ini baru saja mengakhiri tugasnya dengan Garuda pada Oktober 2025 lalu. Hasilnya? Nggak terlalu menggembirakan. Kekalahan tipis dari Irak dan Arab Saudi di babak kualifikasi Piala Dunia meninggalkan rasa kecewa yang mendalam.
Sekarang, dengan Suriname yang dihuni banyak pemain diaspora berlaga di liga top Eropa, Kluivert dapat kanvas baru. Menariknya, jika jalur pertandingan nanti mempertemukan Suriname dengan Irak lagi di final, itu akan jadi kesempatan emas bagi Kluivert. Bukan cuma balas dendam atas kegagalan dulu, tapi juga menorehkan sejarah dengan membawa tanah leluhurnya ke Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Artikel Terkait
Cahaya Hati Awards 2026 Apresiasi Kontribusi Korporasi hingga Sosial
Arus Mudik Lebaran Mulai Meningkat di Tol Keluar Jakarta
Persija Unggul Tipis 1-0 Atas Dewa United di Babak Pertama
Gelombang Mudik Lebaran Mulai Terasa, Pemudik Motor Berangkat Lebih Awal