tegasnya. Jadi, statusnya sebagai pelajaran pilihan mungkin hanya fase awal.
Lalu, seperti apa bentuk mata pelajaran coding itu? Menurut penjelasan Mu’ti, ada tiga klasifikasi yang disiapkan. Pertama, coding unplugged atau pemrograman dasar yang bisa diajarkan tanpa komputer. Kemudian, ada coding berbasis internet, misalnya untuk pemrograman web. Yang ketiga justru menarik: coding berbasis permainan tapi tanpa menggunakan komputer sama sekali.
Di sisi lain, untuk mendukung pembelajaran, infrastruktur juga digenjot. Kementerian telah mendistribusikan lebih dari 288.000 unit layar interaktif sentuh (flat panel) ke sekolah-sekolah. Perangkat ini akan menjadi alat bantu utama untuk mengajarkan coding dan AI.
Terlihat jelas, langkah ini bukan sekadar wacana. Persiapan guru dan sarana sudah digelar, meski jalan menuju penerapan penuh masih panjang. Tinggal menunggu bagaimana eksekusinya di lapangan.
Artikel Terkait
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas
Telkom Konsolidasikan Aset Fiber BUMN Lain ke InfraNexia untuk Dongkrak Pasar
Ketua Banggar DPR Desak Pemerintah Tunda Proyek Tidak Mendesak untuk Pertebal Cadangan Fiskal