Dampaknya nyata dan memprihatinkan. Dalam sebuah pertemuan di Connecticut pekan ini, para eksekutif pelayaran mengungkapkan fakta pahit. Serangan-serangan Iran di selat itu telah menjebak sekitar 10.000 awak kapal. Mereka terperangkap di ratusan kapal yang tak bisa beranjak dari Teluk Persia.
Selat Hormuz, gerbang vital menuju kawasan Teluk yang kaya minyak, praktis macet. Sebagian besar jalur itu ditutup sejak perang dimulai. Dan dalam periode yang sama, belasan kapal kargo sudah menjadi sasaran serangan.
Ini bukan pertama kalinya AS terlibat dalam pengawalan. Dulu, pada 2024 dan 2025, Angkatan Laut AS bersama Uni Eropa pernah mengawal kapal dagang melintasi Laut Merah. Saat itu, ancamannya datang dari kelompok militan Houthi di Yaman. Tapi situasi di Selat Hormuz sekarang, rupanya, dianggap berbeda dan jauh lebih berbahaya.
Artikel Terkait
Bank Muamalat Siapkan Rp879 Miliar Uang Tunai untuk Ramadan dan Lebaran 2026
BPH Migas Pastikan Stok LPG Aman untuk Ramadan dan Lebaran
Kementan Gandeng BRIN dan Kampus, Uji Coba Alat Panjat Kelapa hingga Traktor Terapung
Prabowo Percepat Swasembada Energi Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah