Mendikbud Canangkan Kombinasi Digital dan Menulis Tangan untuk Cegah Ketergantungan Siswa pada AI

- Kamis, 12 Maret 2026 | 14:05 WIB
Mendikbud Canangkan Kombinasi Digital dan Menulis Tangan untuk Cegah Ketergantungan Siswa pada AI

Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan bikin siswa malas berpikir akhirnya dapat tanggapan resmi. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengaku sedang mencari formula agar anak-anak tak sepenuhnya bergantung pada gawai. Salah satu caranya? Menggiatkan kembali kegiatan menulis dengan tangan.

“Kami kan mengombinasikan itu (pembelajaran digital) dengan model pembelajaran yang dalam tanda petik konvensional atau tradisional,” ujar Mu’ti.

“Misalnya kegiatan menulis itu kita aktifkan lagi sekarang,” tambahnya saat berbincang dengan para wartawan di Jakarta, Kamis lalu.

Menurutnya, kombinasi antara metode lama dan baru ini penting. Ia memberi contoh, siswa bisa menonton film atau video pembelajaran lewat panel interaktif di kelas. Namun begitu, resume atau catatan hasil tontonan itu harus mereka tulis tangan, bukan diketik.

Di sisi lain, Mu’ti punya alasan tersendiri. Menulis tangan, katanya, melatih lebih dari sekadar otak. Motorik halus anak ikut terasah, jauh lebih kompleks ketimbang sekadar mengetik di ponsel yang cuma melibatkan dua jempol.

“Menulis itu tidak hanya mengemukakan gagasan dalam bentuk tulisan, tapi juga melatih motorik supaya mereka juga tetap bisa bergerak aktif gitu,” jelasnya.

“Kan kalau pakai HP kan cuma dua jari, ininya (pergelangan tangan) nggak ikut gerak. Nah kalau nulis kan semuanya ikut gerak.”

Harapannya jelas. Dengan memadukan teknologi modern dan pendekatan tradisional, proses belajar diharapkan jadi lebih autentik. Mu’ti ingin siswa tak kehilangan kemampuan dasar: berpikir mandiri, merangkai gagasan, lalu menuangkannya secara fisik lewat tulisan.

“Sekarang mulai kita kembalikan ke arah yang seperti itu,” pungkasnya.

“Sehingga kita kombinasikan antara penggunaan teknologi pembelajaran yang modern dengan sistem pembelajaran, dalam tanda petik ya, tradisional yang menekankan pada kemampuan-kemampuan otentik anak dalam berpikir, menyampaikan gagasan dan menulis.”

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar