Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan bikin siswa malas berpikir akhirnya dapat tanggapan resmi. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengaku sedang mencari formula agar anak-anak tak sepenuhnya bergantung pada gawai. Salah satu caranya? Menggiatkan kembali kegiatan menulis dengan tangan.
“Kami kan mengombinasikan itu (pembelajaran digital) dengan model pembelajaran yang dalam tanda petik konvensional atau tradisional,” ujar Mu’ti.
“Misalnya kegiatan menulis itu kita aktifkan lagi sekarang,” tambahnya saat berbincang dengan para wartawan di Jakarta, Kamis lalu.
Menurutnya, kombinasi antara metode lama dan baru ini penting. Ia memberi contoh, siswa bisa menonton film atau video pembelajaran lewat panel interaktif di kelas. Namun begitu, resume atau catatan hasil tontonan itu harus mereka tulis tangan, bukan diketik.
Di sisi lain, Mu’ti punya alasan tersendiri. Menulis tangan, katanya, melatih lebih dari sekadar otak. Motorik halus anak ikut terasah, jauh lebih kompleks ketimbang sekadar mengetik di ponsel yang cuma melibatkan dua jempol.
Artikel Terkait
Jaksa Tuntut Ammar Zoni 9 Tahun Penjara dalam Kasus Narkoba
Sidang Tuntutan Ammar Zoni, Keluarga Fokus Jaga Kondisi Mental Terdakwa
Hasan Nasbi Dipanggil Presiden Prabowo, Topik Bahasan Diduga Situasi Global
Pemerintah Tegaskan Belum Ubah APBN 2026 Meski Harga Minyak Sempat Sentuh US$100