“Motor Electrum ini karena kilometer-nya sudah di atas 7.000, jadi saya harus bayar harga tersebut sampai 532 hari atau sekitar satu tahun tujuh bulan,” jelasnya.
Dibanding cicilan motor bensin seperti Honda Vario yang bisa mencapai Rp2,3 juta per bulan belum termasuk BBM dan perawatan Acel merasa pilihannya lebih hemat. Ditambah lagi, ada insentif dari pemerintah: pajak kendaraan bermotor (PKB) untuk kendaraan listrik ditetapkan 0 persen.
Sebagai perbandingan, motor bensin kena PKB 1–2 persen dari nilai jual. Misal, motor 150cc dengan NJKB Rp25 juta, pajaknya bisa Rp375.000 sampai Rp500.000 per tahun. Pengguna motor listrik cuma bayar SWDKLLJ atau asuransi sekitar Rp35.000.
“Soal pajak juga ringan. Saya bayar sekitar Rp35.000 untuk asuransi saja,” katanya.
Perawatannya pun lebih sederhana. Cuma perlu pengecekan sistem kelistrikan, yang saat ini masih banyak ditanggung penyedia layanan. Acel juga merasa motor listrik lebih aman saat banjir. Pada motor bensin, air yang masuk knalpot bisa bikin mesin mogok. Sedangkan motor listrik, selama air tak mencapai jok tempat baterai, masih bisa jalan.
Pengalaman itu yang bikin Acel mantap. “Sejauh ini saya belum akan beralih ke motor bensin lagi. Saya masih nyaman menggunakan motor listrik,” tutupnya.
Jadi, di tengah kekhawatiran banyak orang soal harga minyak, cerita Acel ini seperti angin segar. Mungkin, di situlah masa depan mulai terlihat.
Artikel Terkait
Kementan Gandeng BRIN dan Kampus, Uji Coba Alat Panjat Kelapa hingga Traktor Terapung
Prabowo Percepat Swasembada Energi Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah
WhatsApp Luncurkan Akun Terkendali untuk Anak Usia 10-12 Tahun
Lalu Lintas Selat Hormuz Anjlok 97%, Harga Minyak dan Gas Melonjak