Lalu lintas kapal di Selat Hormuz nyaris berhenti total. Sejak perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel meletus, arus kapal yang melintasi jalur strategis itu terjun bebas tepatnya anjlok 97 persen. Angka yang mencengangkan itu datang dari laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut data dari firma riset Clarksons yang dikutip oleh Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), sebelumnya rata-rata harian kapal yang melintas mencapai 129 unit. Kini, tinggal sisa-sisanya saja.
"Dampak ekonomi dari konflik ini nantinya sangat bergantung pada berapa lama perang berlangsung, seberapa intens, dan seberapa luas ketegangan menyebar,"
demikian pernyataan UNCTAD dalam laporannya, seperti dilansir Arabian Business, Kamis lalu.
Efeknya langsung terasa di pasar global. Harga gas dan minyak melonjak tajam, masing-masing naik 74 persen dan 27 persen. Situasinya makin pelik karena Selat Hormuz bukan cuma urusan minyak. Sekitar sepertiga ekspor pupuk dunia juga melewati selat sempit itu sekitar 16 juta ton tahun kemarin.
"Kalau ekspor dibatasi, akses ke pupuk bakal susah, terutama buat negara-negara berkembang,"
tambah UNCTAD memperingatkan.
Memang, laporan itu mencatat bahwa guncangan sosial-ekonomi akan paling keras dirasakan oleh negara-negara berkembang. Di sana, kenaikan biaya pengiriman dan lonjakan harga barang bakal berdampak paling dalam, memukul masyarakat yang sudah rentan. Jadi, bukan cuma angka statistik. Ini soal kesejahteraan orang banyak yang terancam.
Artikel Terkait
Prabowo Lantik Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan
Kemensos Percepat Digitalisasi Bansos, Bentuk Tim Lintas Sektor demi Tepat Sasaran
Unhas Kukuhkan Kembali Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Periode 2026-2030
Superbank Gelar RUPST Perdana Pasca-IPO, Catat Laba Sebelum Pajak Rp143,3 Miliar di 2025