Sebelum namanya dikenal luas di layar kaca, Raden Rakha ternyata punya cerita lain. Kehidupan sebagai santri pernah dijalaninya, jauh sebelum dunia akting memanggil. Pengalaman itu ia dapatkan saat masih remaja, tepatnya di bangku SMP.
Dua tahun lamanya ia mondok. Itu terjadi waktu kelas 7 dan 8, di sebuah pesantren di Jepara. Setelah lulus, dan kebetulan situasi pandemi lagi melanda, Rakha memutuskan pindah ke Bogor. Di sana, ia melanjutkan pendidikan di sebuah boarding school.
Cerita ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan Brownies, Kamis lalu.
Meski hidup dengan aturan yang ketat, Rakha justru mengenang masa-masa itu dengan senyum. Banyak kenangan seru yang ia bawa hingga sekarang. Baginya, pesantren adalah tempat yang memberinya pelajaran hidup yang tak ternilai.
"Rasanya mondok itu seru sih," ujarnya. "Jadi ngelatih diri kita untuk disiplin sama taat sama peraturan. Dan yang jelas, kita jadi lebih jauh mengenal agama Islam beserta aturan-aturannya."
Sebenarnya, keinginan awal remaja kelahiran Bogor ini sederhana saja: masuk SMP biasa seperti teman-teman sebayanya. Tapi sang ayah punya pandangan lain. Sang ayah merasa, pendidikan pesantren akan memberikan sesuatu yang lebih mendalam.
"Dari aku sendiri awalnya pengen masuk SMP bisa bareng teman-teman aku," akunya. "Tapi papa menganjurkan mungkin pesantren lebih baik. Biar aku bisa mengenal agama Islam jauh lebih deep."
Dan anjuran itu ternyata membawa dampak nyata. Di usianya yang sekarang, 19 tahun, Rakha mengakui perubahan besar dalam dirinya. Yang paling menonjol? Kedisiplinan.
"Perubahannya sih paling disiplin," jelas Rakha. "Karena kan di pesantren kita benar-benar tanggung jawab sama diri kita sendiri."
Menurutnya, peran ustaz di sana lebih pada mengawasi kewajiban ibadah. Selebihnya, para santri dituntut mandiri. Mulai dari urusan cuci baju, hingga mengantri panjang untuk makan. Semua itu, pada akhirnya, mengajarkannya untuk menjaga diri sendiri.
"Ustaz tuh paling cuma kayak kewajibannya bangunin kita shalat tahajud, shalat subuh, dan lain-lain. Sisanya kita urus sendiri," tutupnya. "Ya lebih ke menjaga diri sendiri sih akhirnya."
Artikel Terkait
Polres Kampar Musnahkan Enam Rakit Dompeng Tambang Emas Ilegal di Sungai Singingi
Vonis Seumur Hidup untuk Alvi Maulana, Pembunuh dan Mutilasi Pacar di Surabaya
Menteri Pertahanan Mali Tewas dalam Serangan Terkoordinasi Kelompok Afiliasi Al-Qaeda
Brimob dan Damkar Padamkan Sisa Api di Rumah Sekaligus Warung Kopi yang Terbakar di Jatinegara Kaum