Di sisi lain, ada fenomena menarik yang tercatat. Volume konsumsi hampir semua jenis energi bersubsidi listrik, LPG, sampai BBM meningkat dibanding periode sama tahun lalu. Bagi Suahasil, tren ini bukan cuma soal beban anggaran yang membengkak.
Justru, ia melihatnya sebagai sinyal positif.
“Kalau listrik bertambah berarti ada kegiatan ekonomi. LPG bertambah juga indikasi kegiatan ekonomi. BBM bertambah juga indikasi dari aktivitas ekonomi yang terus berjalan,” katanya meyakinkan.
Meski komitmen menjaga harga energi terjangkau tetap dipegang teguh, pemerintah tak menutup mata. Mereka tetap waspada. Fluktuasi harga minyak dunia, gejolak nilai tukar rupiah, dan potensi lonjakan konsumsi jadi variabel yang terus diawasi ketat. Semua itu bisa saja menekan postur belanja kapan pun.
Langkah membayar utang kompensasi ini jelas sebuah gerakan proaktif. Harapannya, arus kas BUMN energi seperti PLN dan Pertamina tetap sehat. Dan yang tak kalah penting, pasokan energi nasional bisa terjamin di tengah dinamika global yang serba tak pasti.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
AS Tolak Pengawalan Militer di Selat Hormuz, 10.000 Awak Kapal Terjebak
Gejolak Harga Minyak Ancam BBM, Pengemudi Ojol Beralih Listrik Justru Tenang
Lima Kapal Diserang dalam Dua Hari, Keamanan Jalur Vital Teluk Makin Terancam
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator