NEW YORK Reaksi keras datang dari Iran menyusul draf resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk serangannya ke sejumlah negara Arab. Bagi Teheran, resolusi itu dinilai jauh dari kata adil. Alih-alih menindak pelaku, draf tersebut justru dianggap memberi "penghargaan" kepada Amerika Serikat dan Israel, sementara posisi Iran sebagai pihak yang merasa diserang malah disalahkan.
Intinya, pemerintah Iran melihat ada upaya pembalikan fakta. Negara-negara Teluk yang mengajukan draf itu, menurut Teheran, sengaja memosisikan Iran sebagai agresor. Padahal, serangan militer AS dan Israel-lah yang disebut telah menelan banyak korban sipil di wilayah mereka.
Di Markas Besar PBB, New York, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyuarakan peringatan. Dia meminta Dewan Keamanan berpikir matang sebelum mengadopsi resolusi tersebut.
“Beberapa anggota Dewan (Keamanan PBB) berusaha untuk membalikkan peran serta posisi korban dan agresor,” kata Iravani, Kamis (12/3/2026).
Peringatannya jelas: sebagian anggota dewan dinilai mencoba memutarbalikkan keadaan.
Draf yang diajukan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) itu memang secara tegas mengutuk serangan rudal dan drone Iran ke Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Tak hanya kutukan, resolusi juga mendesak penghentian segera semua aksi serupa dari Iran.
Namun begitu, Iran punya alasan sendiri. Serangan yang mereka lancarkan, menurut penjelasan resmi, ditujukan untuk menghantam pangkalan militer dan aset AS yang digunakan mendukung operasi melawan Iran. Jadi, ini dilihat sebagai aksi balasan.
Artikel Terkait
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator
Kemkomdigi Perketat Patroli Siber untuk Tangkal Penipuan Mudik dan Hoaks Jelang Lebaran
Jaksa Penuntut Kasus Sabu 2 Ton Minta Maaf ke DPR Usai Dapat Hukuman Disiplin
Penerimaan Pajak Tumbuh 30,4%, Dongkrak Belanja Negara Awal 2026