Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar layanan ini benar-benar gratis. Jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan momen ini untuk memungut biaya dari para pemudik yang sudah kepayahan. Koordinasi dengan aparat setempat dinilai penting untuk memastikan hal ini.
Fasilitas pendukung lain juga diharapkan ada. Misalnya, tempat pengisian daya ponsel, ruang laktasi untuk ibu menyusui, atau bahkan layanan tambal ban dan obat-obatan ringan. Kolaborasi dengan puskesmas terdekat untuk layanan kesehatan dasar juga bisa jadi nilai tambah.
Menurut Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, program serupa tahun lalu sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan. “Pada 2025, program Masjid Ramah Pemudik dimanfaatkan sekitar 1,7 juta pemudik,” ujarnya.
Ia juga mengutip data dari Kementerian Perhubungan yang menunjukkan penurunan fatalitas kecelakaan yang cukup signifikan. “Salah satu faktornya adalah keberadaan masjid sebagai tempat singgah, khususnya bagi pemudik pengendara motor,” jelas Abu Rokhmad.
Untuk tahun ini, pelaksanaannya akan lebih terintegrasi. Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, seperti dengan Kemenhub dan Polri, diperkuat agar layanan ini bisa maksimal. Ribuan rumah ibadah yang tersebar di jalur mudik nasional itu diharapkan bukan sekadar tempat berhenti, tapi juga penguat semangat gotong royong di tengah hiruk-pikuk arus mudik.
Artikel Terkait
OJK Proyeksikan Kredit UMKM Tumbuh 7-9% pada 2026
Dubes Prancis Apresiasi Capaian Swasembada Pangan Indonesia, Bahas Penguatan Kerja Sama
Liverwall Tumbang, Barcelona Tertahan: Drama di Babak 16 Besar Liga Champions
Konflik Timur Tengah Dorong Inflasi dan Tekan Rupiah, Pelaku Usaha Waspada