Harga minyak dunia ambruk pada Selasa kemarin. Anjloknya cukup dalam, lebih dari 11 persen, dan ini jadi penurunan harian terbesar yang tercatat sejak 2022. Guncangan di pasar ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump memberi isyarat bahwa perang dengan Iran mungkin segera berakhir.
Kontrak berjangka Brent terpangkas 11 persen ke level USD87,80 per barel. Sementara itu, WTI AS merosot lebih dalam lagi, 11,9 persen, ditutup di angka USD83,45. Keduanya sehari sebelumnya justru melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun. Jadi, pergerakannya benar-benar berbalik arah dengan drastis.
Menurut sejumlah saksi, penurunan harga bahkan sempat lebih tajam di tengah hari. Pemicunya adalah sebuah unggahan dari Menteri Energi AS, Chris Wright, di platform X. Ia menulis bahwa militer Amerika membantu pengiriman minyak melewati Selat Hormuz yang rawan.
“Presiden Trump menjaga stabilitas energi global selama operasi militer melawan Iran,”
tulis Wright dalam unggahan yang kemudian tampak dihapus itu. Ia juga menyebut Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker melalui selat vital tersebut, demi memastikan pasokan tetap mengalir ke pasar.
Di sisi lain, Partai Republik yang dipimpin Trump memang sedang memulai kampanye untuk pemilu paruh waktu November. Isu harga energi yang melambung jelas menjadi perhatian utama para pemilih. Jadi, langkah-langkah penurunan harga punya nilai politis yang nyata.
Andrew Lipow, pendiri Lipow Oil Associates, melihat pasar bereaksi terhadap kemungkinan Selat Hormuz kembali terbuka.
“Dari sudut pandang pemerintah, langkah ini juga memiliki nilai simbolis yang jelas: harga minyak dan bensin yang lebih rendah membantu meringankan beban konsumen,”
katanya.
Lonjakan harga pada Senin lalu, yang sempat sentuh level di atas USD119 per barel, dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan besar-besaran. Namun begitu, sentimen itu berbalik setelah Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan melakukan pembicaraan yang membahas proposal penyelesaian cepat. Trump sendiri dalam wawancara dengan CBS News menyatakan perang sudah “hampir selesai”, jauh lebih cepat dari perkiraan awal empat hingga lima pekan.
Namun, ada catatan penting dari para analis. Simon Flowers dari Wood Mackenzie mengingatkan, bahkan jika perang berakhir, pasokan minyak tak akan serta-merta pulih seperti sediakala.
“Ketika konflik berakhir, memulihkan rantai pasokan tidak akan berlangsung cepat,” tegas Flowers.
Ia menambahkan bahwa memulai kembali produksi dari sumur yang telah ditutup lama bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan lebih.
Di lapangan, perang ternyata belum reda. AS dan Israel justru melancarkan serangan udara paling intens sejak konflik dimulai pada hari Selasa itu. Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps Iran membalas dengan pernyataan keras: Teheran tak akan izinkan “satu liter pun minyak” diekspor jika serangan terus berlanjut.
Pasar juga digoyang oleh kabar lain. Trump disebut-sebut mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia terkait perang di Ukraina, plus melepas cadangan minyak darurat. Priyanka Sachdeva, analis Phillip Nova, melihat semua diskusi ini mengirim pesan yang sama: pasokan minyak akan tetap menemukan jalan ke pasar, dengan satu cara atau cara lain.
Meski begitu, para menteri energi G7 pada hari yang sama belum mencapai kata sepakat untuk segera melepas cadangan strategis. Mereka meminta International Energy Agency (IEA) untuk menilai situasi terlebih dulu.
Risiko gangguan pasokan tetap nyata. Saudi Aramco, raksasa minyak dunia, memperingatkan tentang “konsekuensi bencana” jika pelayaran di Selat Hormuz terus terganggu. Sekitar 1.9 juta barel per hari kapasitas pengolahan di Teluk telah dihentikan. Belum lagi insiden kebakaran di kilang Ruwais Refinery Abu Dhabi setelah serangan drone.
JPMorgan dalam catatannya pesimis. Mereka menyebut kebijakan pemerintah mungkin berdampak terbatas, kecuali jalur aman melalui Selat Hormuz benar-benar terjamin. Potensi kehilangan pasokan masih mengintai, bisa mencapai 12 juta barel per hari dalam dua minggu ke depan.
Di tengah semua gejolak ini, Goldman Sachs memilih bersikap hati-hati. Mereka belum mengubah proyeksi harga minyaknya karena situasi dinamis. Perkiraan mereka untuk harga Brent di kuartal akhir tahun ini adalah USD66 per barel, sementara WTI di angka USD62. Sepertinya, ketidakpastian masih akan berlanjut cukup lama.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%