Konflik Timur Tengah Dorong Inflasi dan Tekan Rupiah, Pelaku Usaha Waspada

- Rabu, 11 Maret 2026 | 05:00 WIB
Konflik Timur Tengah Dorong Inflasi dan Tekan Rupiah, Pelaku Usaha Waspada

Konflik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran masih terus berlangsung, dan dampaknya ternyata merambat jauh hingga ke meja para pengusaha di Indonesia. Yang jadi sorotan utama? Inflasi harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah yang makin terasa. Situasi ini bikin banyak pelaku usaha was-was.

Naiknya harga minyak dunia, misalnya, langsung berimbas pada rantai pasok. Biaya produksi dan distribusi, terutama logistik internasional, ikut terdongkrak. Akibatnya, beban operasional bisnis pun semakin berat.

Wakil Ketua Umum Apindo, Sanny Iskandar, mengaku khawatir dengan situasi ini. Menurutnya, risk premium harga minyak dan gas yang meningkat berpotensi besar mendorong kenaikan biaya logistik ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Dia bilang, sektor padat karya termasuk yang paling rentan. Soalnya, margin bisnis di sektor ini tipis dan sangat sensitif terhadap goncangan biaya distribusi, bahan baku impor, plus permintaan ekspor yang bisa terganggu. Jadi, dampak makro ekonomi dari konflik ini akhirnya berujung pada kinerja korporasi.

Memang, neraca dagang kita tidak terlalu bergantung pada Iran atau Israel. Tapi, efeknya tetap akan dirasakan perusahaan. Menurut Sanny, jalur pengaruhnya lebih ke hal-hal tidak langsung.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar