IDXChannel – Dalam sehari terakhir, cuma lima kapal yang berani melintasi Selat Hormuz. Salah satunya kapal tanker produk minyak milik Iran. Data pelayaran Jumat lalu menunjukkan angka itu. Angka itu jelas kecil banget. Apalagi kalau dibandingkan dengan rata-rata harian sebelum perang yang biasanya mencapai 140 pelayaran per hari. Semua berubah sejak 28 Februari, saat konflik mulai memanas. Menurut sejumlah saksi di industri pelayaran, situasinya memang mencekam. Iran baru saja menyita dua kapal kontainer pekan ini. Di sisi lain, Amerika Serikat terus memperketat blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran. “Sebagian besar perusahaan pelayaran butuh gencatan senjata yang stabil,” ujar Jakob Larsen, kepala keselamatan dan keamanan di asosiasi pelayaran BIMCO. “Mereka juga perlu jaminan dari kedua pihak bahwa Selat Hormuz aman dilalui.” Untuk sementara, kapal-kapal yang nekat melintas cuma bisa pakai rute dekat Iran dan Oman. Masalahnya, jalur itu sempit. Nggak mungkin menampung volume kapal sebanyak biasanya. Salah satu yang terlihat kabur dari selat adalah kapal tanker Niki, berbendera Iran. Kapal ini sudah masuk daftar sanksi AS. Data dari Kpler dan MarineTraffic menunjukkan Niki melaju tanpa tujuan jelas. Nah, pertanyaannya: apa yang bakal terjadi kalau kapal itu terus melaju ke timur? Soalnya, di sana ada garis blokade Angkatan Laut AS. Belum ada yang tahu pasti. Hampir dua bulan sudah sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Namun begitu, tanda-tanda perundingan damai belum juga kelihatan. Di tengah ketidakpastian itu, perusahaan pelayaran Hapag-Lloyd ngaku bahwa salah satu kapalnya berhasil melintasi selat. Tapi mereka ogah kasih detail soal kondisi atau waktunya. Sementara itu, ada kabar lain. Sebuah supertanker berbendera Komoro, namanya Helga, tiba di terminal pemuatan minyak lepas pantai di Basra, Irak selatan, pada Jumat. Kapal ini jadi yang kedua yang berhasil mencapai Irak sejak selat ditutup. Tapi kekhawatiran makin menjadi-jadi. Rabu lalu, Iran pakai kapal kecil berkecepatan tinggi buat menyita dua kapal kontainer di dekat selat. Bikin perusahaan pelayaran dan minyak semakin gelisah. “Penyitaan terbaru ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz yang ‘terbuka’ pun nggak benar-benar aman,” kata Peter Sand, kepala analis di Xeneta, platform intelijen pengiriman laut dan udara. “Baik bagi pelaut, kapal, maupun kargo.” (NIA DEVIYANA)
Artikel Terkait
1.723 Jamaah dan Petugas Haji Embarkasi Pondok Gede Tiba di Madinah
Bank Mandiri, BTN hingga LPS Lolos ke 8 Besar IDX Channel Capital Market Padel Competition
Ketimpangan Logistik Nasional Dinilai Jadi Hambatan Utama Program Makan Bergizi Gratis
BCA Juarai Turnamen Padel IDX Channel, Kalahkan Bank Raya Lewat Golden Point