Zelensky Tawarkan Azerbaijan sebagai Tempat Perundingan Damai dengan Rusia

- Sabtu, 25 April 2026 | 19:15 WIB
Zelensky Tawarkan Azerbaijan sebagai Tempat Perundingan Damai dengan Rusia

GABALA Volodymyr Zelensky bilang, Ukraina siap duduk satu meja dengan Rusia untuk perundingan damai. Lokasinya? Azerbaijan. Waktunya? Dalam waktu dekat tapi tentu saja, semua tergantung Moskow. Kalau mereka benar-benar mau jalur diplomasi, Kyiv terbuka.

Pernyataan ini keluar dari konferensi pers bersama Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev. Lokasinya di Gabala, kota kecil yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk medan perang. Zelensky dan Aliyev baru saja bertemu, dan hasilnya bukan cuma omongan soal damai.

“Bagi kami, sangat penting bagi Rusia untuk menemukan kekuatan demi mengakhiri perang yang tidak adil ini,” kata Zelensky, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu, 25 April 2026.

Nada bicaranya serius. Mungkin sedikit lelah. Tapi dia tetap menekankan satu hal: Ukraina menghargai negara mana pun yang mau jadi penengah. Termasuk Azerbaijan. Di sisi lain, pertemuan itu juga menghasilkan enam dokumen kerja sama. Bukan main-main. Mulai dari keamanan sampai urusan industri pertahanan.

Zelensky bahkan menyebut kesepakatan pengembangan bersama industri pertahanan sebagai “langkah yang sangat serius.” Kata-katanya tegas. Kayaknya dia memang nggak main-main soal ini.

Aliyev, di sisi lain, punya cerita sendiri. Dia bilang hubungan Ukraina dan Azerbaijan sekarang makin erat. Perdagangan? Udah tembus 500 juta dolar AS. Energi juga jadi sektor yang mereka garap bareng. Jadi, bukan cuma soal perang dan damai ada urusan bisnis juga.

Menurut sejumlah saksi, kedua pemimpin juga ngobrolin peluang perluasan kerja sama ekonomi. Dialog politik sih udah jalan, tapi mereka pengin lebih dari sekadar jabat tangan.

Ngomong-ngomong soal perundingan damai, sebelumnya Amerika Serikat sempat jadi mediator. Beberapa putaran udah digelar. Tapi ya gitu, prosesnya macet. Dinamika konflik lain perang Iran, misalnya bikin semuanya tambah rumit.

Zelensky mungkin sadar: diplomasi itu nggak gampang. Tapi setidaknya, dia masih coba. Dan Azerbaijan, buat sementara ini, jadi panggung baru untuk harapan yang entah bakal terwujud atau tidak.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar