Wall Street berhasil bangkit dari keterpurukan di sesi Senin kemarin. Aksi jual yang sempat tajam berbalik menjadi penguatan, berkat isyarat dari Presiden Donald Trump soal kemungkinan perang dengan Iran akan segera berakhir. Sentimen itu cukup kuat untuk mendorong indeks naik di menit-menit penutupan perdagangan.
Menurut data, Dow Jones naik 239,25 poin (0,50%) ke level 47.740,80. Sementara itu, S&P 500 melonjak 55,97 poin (0,83%) menjadi 6.795,99. Nasdaq jadi yang paling perkasa, melesat 1,38% atau 308,27 poin ke posisi 22.695,95.
Padahal, awal sesi sempat suram. Harga minyak melambung ke level tertinggi sejak pertengahan 2022, imbas dari gangguan pasokan seiring perang di Iran yang memasuki hari kesepuluh. Kenaikan energi seperti ini selalu bikin was-was, bisa memicu inflasi lebih luas di saat daya beli masyarakat lagi tertekan.
Namun begitu, tekanan itu mereda. Minyak mentah akhirnya turun setelah beredar kabar bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia. Kabar itulah yang jadi angin segar bagi pasar.
Fluktuasi intraday yang terjadi hari ini sebenarnya cermin dari kondisi belakangan ini. Investor terus mencerna setiap berita utama, yang bikin perdagangan harian jadi lebih bergejolak.
Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi di CFRA Research New York, mengamati hal serupa.
"Masih ada banyak sekali ketidakpastian di luar sana mengenai durasi konflik, serta durasi penutupan Selat Hormuz," ujarnya.
"Sekali lagi hari ini, pergerakan rebound harga menunjukkan bahwa investor mencari setiap peluang untuk kembali masuk ke pasar," katanya menambahkan.
Di sisi lain, kekhawatiran stagflasi belum benar-benar hilang. Laporan ketenagakerjaan Jumat lalu yang lebih lemah dari perkiraan, dikombinasikan dengan ancaman inflasi, berpotensi menjebak Fed dalam dilema. Mereka terjepit antara mandat menjaga stabilitas harga dan menciptakan lapangan kerja penuh.
Meski begitu, pasar keuangan tampaknya masih optimis. Mayoritas memperkirakan bank sentral akan bertahan, tidak mengubah suku bunga acuan setidaknya hingga paruh pertama tahun ini.
Harapan perdamaian di Timur Tengah sendiri sebelumnya sempat meredup. Pilihan Iran, Mojtaba Khamenei, untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi dianggap Trump tidak bisa diterima. Presiden AS itu sebelumnya menyerukan penyerahan tanpa syarat dari Iran.
Di lantai Nasdaq, suasana cukup positif. Sekitar 2.645 saham naik, mengalahkan 2.107 saham yang turun. Rasio penguat terhadap pelemah sekitar 1,26 banding 1.
Secara teknis, S&P 500 mencetak empat rekor tertinggi baru dan sembilan rekor terendah baru dalam 52 minggu. Nasdaq lebih bergejolak, dengan 47 rekor tertinggi baru tapi diimbangi 187 rekor terendah baru.
Aktivitas perdagangan juga terlihat ramai. Volume saham yang diperdagangkan mencapai 22,41 miliar, melampaui rata-rata 20 hari sebesar 19,99 miliar saham. Ini menunjukkan antusiasme yang masih tinggi, meski di tengah volatilitas.
Artikel Terkait
Saham LPPF dan ASGR Anjlok ke ARB Usai Ex Dividen, Terjebak Fenomena Dividend Trap
Merdeka Gold Tak Bagikan Dividen karena Saldo Laba Masih Negatif
Saiko Consultancy Alihkan Target Akuisisi ke HBS Food Setelah Gagal Caplok Soraya Berjaya
IHSG Ambruk 0,63 Persen di Awal Perdagangan, Seluruh Sektor Tertekan