“Pihak-pihak berkekuatan besar sedang bertikai dan bisa menyeret bangsa-bangsa lain dalam keadaan yang susah.”
Oleh karena itu, kemandirian nasional jadi kunci. Dan ini bukan cuma soal pangan. Prabowo juga menyinggung ketergantungan pada impor BBM yang harus diputus. Di sini, ia melihat peluang besar. Potensi sumber daya alam lokal seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu bisa diolah jadi sumber energi alternatif. Impiannya jelas: Indonesia tak lagi bergantung pada minyak impor.
Lantas, apa yang membuatnya cukup percaya diri? Prabowo mengaku pemerintah tak berhenti memantau dan mengkaji. Berbagai indikator ekonomi dan potensi sumber daya nasional dihitung secara cermat. Dari sana, muncul keyakinan bahwa Indonesia bukan hanya bisa bertahan, tapi mungkin justru keluar lebih kuat.
“Saya sudah melihat dan mempelajari angka-angka setiap hari. Kita menemukan kekayaan-kekayaan baru,” jelasnya.
“Kita mungkin akan mengalami kesulitan, saya tidak akan menutupi itu, tetapi perkiraan saya kita akan keluar dari keadaan krisis ini dengan lebih kuat, lebih makmur, dan lebih mampu berdikari.”
Jadi, narasinya adalah kombinasi antara kewaspadaan dan optimisme. Di satu sisi, ancaman global diakui adanya dan nyata. Di sisi lain, dengan mengandalkan kekuatan dalam negeri dan perhitungan yang matang, Prabowo yakin Indonesia punya modal cukup untuk melalui semuanya. Tantangan ke depan tetap ada, tapi setidaknya, untuk urusan perut, ia memastikan kita sudah punya pondasi yang kokoh.
Artikel Terkait
AS Gunakan Rudal PrSM untuk Pertama Kali dalam Serangan ke Iran
Tiga Calon Debutan Bersaing Ketat di Skuad Sementara Timnas Indonesia
Iran Bantah Klaim Trump, Tegaskan Mereka yang Tentukan Akhir Perang
Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan BRI Tembus Rp811,9 Triliun