Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan BRI Tembus Rp811,9 Triliun

- Selasa, 10 Maret 2026 | 10:00 WIB
Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan BRI Tembus Rp811,9 Triliun

Isu ekonomi hijau dan inklusif kian mengemuka, dan dalam hal ini, peran pembiayaan berkelanjutan jadi kunci. Tak sekadar ramah lingkungan, pendekatan ini juga diharapkan bisa memperkuat ketahanan sosial. Menariknya, komitmen ini sejalan dengan target pemerintah mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Nah, di tengah arus ini, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengklaim terus memperkuat perannya. Caranya? Melalui penyaluran pembiayaan yang berorientasi pada keberlanjutan, termasuk untuk UMKM dan sektor-sektor ramah lingkungan di berbagai daerah.

Angkanya cukup signifikan. Hingga Desember 2025, portofolio sustainable loans BRI disebut mencapai Rp811,9 triliun. Jumlah itu setara dengan 60,5 persen dari total portofolio pinjamannya. Jadi, bisa dibilang, sebagian besar aktivitas pembiayaan bank pelat merah ini sudah mengusung prinsip keberlanjutan.

Portofolio senilai ratusan triliun itu rupanya terbagi. Mayoritas, yakni Rp718,7 triliun, masuk kategori social loans. Dana ini disalurkan untuk pembiayaan mikro, UMKM, dan juga perumahan bersubsidi. Tujuannya jelas: memperluas akses keuangan, membuka peluang ekonomi yang lebih merata, dan pada akhirnya mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Di sisi lain, ada pula green loans yang nilainya tercatat Rp93,2 triliun. Aliran dananya diproyeksikan untuk hal-hal yang berwawasan lingkungan. Mulai dari proyek energi terbarukan, efisiensi energi, pengendalian polusi, hingga transportasi hijau dan green building. Langkah ini tentu saja jadi bagian dari dukungan terhadap agenda transisi ekonomi.

Tak hanya dari sisi penyaluran kredit, BRI juga aktif mengembangkan pendanaan berkelanjutan atau Sustainable Wholesale Funding. Per Desember 2025, posisinya mencapai Rp45,6 triliun.

Direktur Network & Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan sudah jadi bagian dari strategi jangka panjang bank.

"Ini jadi fondasi untuk memperkuat model bisnis yang tahan banting," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, orientasi ini menjadi pijakan agar pertumbuhan bisnis bank berjalan selaras dengan agenda transisi menuju ekonomi rendah karbon. Sekaligus, tetap punya misi memperluas inklusi keuangan.

Menurut Aquarius, pendekatan BRI menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar untuk memenuhi regulasi. "Ini telah menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan Bank," ungkapnya. Integrasi itu, klaimnya, memperkuat ketahanan bisnis, memperluas akses pembiayaan yang bertanggung jawab, dan memberi nilai tambah sosial serta lingkungan bagi semua pemangku kepentingan.

Komitmen BRI dalam hal ini rupanya juga mendapat pengakuan dari luar. Beberapa lembaga pemeringkat ESG internasional memberi catatan positif. Misalnya, S&P Global memberikan skor 74 dari 100 dalam Corporate Sustainability Assessment (CSA) 2025. BRI juga tercatat sebagai Sustainability Yearbook Member selama empat tahun berturut-turut, periode 2023–2026.

Selain itu, Sustainalytics menempatkan BRI pada kategori Low ESG Risk. Sementara MSCI memberikan peringkat A untuk performa ESG perseroan.

Semua upaya dan capaian ini, seperti disinggung sebelumnya, sejalan dengan Asta Cita pemerintah yang menekankan harmoni dengan lingkungan, alam, dan budaya. Sebuah langkah yang memang kompleks, tapi perlahan mulai menunjukkan bentuknya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar