"Kalau hitungan kita, sepertinya kita tumbuh 5,5 sampai 6 persen. Mudah-mudahan lebih cepat dari 5,5. Signifikannya ada 5,5. Itu secara otomatis akan palingnya membuat impresi awal bahwa di sini pertumbuhannya berkesinambungan,"
tutur Purbaya.
Soal kekhawatiran Fitch terkait pendapatan negara yang melemah, dia punya jawabannya. Memang belanja negara melonjak tajam, nyaris 42 persen, buat biayai program prioritas. Tapi di sisi lain, penerimaan pajak hingga Februari 2026 justru tumbuh solid di angka 30,4 persen. Defisit APBN pun masih sangat terjaga, cuma 0,53 persen dari PDB jauh di bawah batas aman UU yang 3 persen.
Untuk menjaga momentum itu, Purbaya sudah mengambil langkah tegas: mengocok ulang jajaran di Ditjen Pajak dan Bea Cukai.
"Salah satu konsep mereka adalah pendapatan pajak, bea cukai yang lain-lain katanya berisiko karena tahun-tahun lebih rendah dari tahun sebelumnya. Tapi kita pastikan ini akan membaik kan ini. Saya sudah mengocok ulang-ulang orang-orang pajak, bea cukai juga sama,"
katanya mantap.
Jadi, begitulah rencananya. Purbaya akan turun ke lapangan internasional, menjawab keraguan langsung, sambil memastikan cerita pertumbuhan Indonesia yang sebenarnya terdengar lebih nyaring.
Artikel Terkait
Filipina Terapkan Kerja Empat Hari Seminggu untuk Kantor Pemerintah, Antisipasi Krisis Energi Global
Dokter Kecantikan Richard Lee Ditahan Polda Metro Jaya Usai Mangkir Pemeriksaan
Pemerintah Siapkan Stimulus Rp191 Triliun untuk Dongkrak Ekonomi Jelang Lebaran 2026
Selebgram Nabilah OBrien Ajukan Praperadilan Usai Ditahan Polisi Soal Dugaan Pencemaran Nama Baik