Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar AS Usai Laporan Ketenagakerjaan Buruk

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:15 WIB
Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar AS Usai Laporan Ketenagakerjaan Buruk

New York: Harga emas berhasil menguat pada Jumat (6/3/2026). Kenaikan ini tak lepas dari pelemahan dolar AS, yang terpukul oleh laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih buruk dari perkiraan.

Menurut data dari Investing.com yang dirilis Sabtu, harga emas spot melonjak 1,6% ke level USD 5.162,42 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas juga naik signifikan, yakni 1,8% menjadi USD 5.170,14 per ons.

Minggu ini, hubungan tarik-menarik antara logam mulia dan dolar AS kembali terjadi. Investor tampaknya bingung menentukan pilihan aset safe-haven di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Meski naik hari ini, harga emas spot secara mingguan masih terpantau turun 2,2%. Di sisi lain, dolar diproyeksikan akan menguat 1,4% sepanjang pekan.

Joseph Cavatoni, ahli strategi pasar senior untuk Amerika Utara di World Gold Council, memberikan penjelasannya kepada Investing.com.

“Awal pekan, eskalasi di Timur Tengah memicu reaksi keras. Emas sempat meroket di atas USD 5.400 karena banyak yang mencari perlindungan. Tapi, premi risiko itu perlahan menguap seiring pasar yang mulai mencerna situasi dan dolar yang menguat faktor yang biasanya menekan emas dalam jangka pendek,” ujarnya.

“Ini biasa terjadi. Emas dan dolar sering bergantian jadi tempat berlindung saat tekanan geopolitik muncul. Penguatan dolar bisa bikin emas tertekan sementara, meski secara keseluruhan, latar belakang risikonya tetap mendukung,” tambah Cavatoni.


(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)

Laporan Tenaga Kerja AS Mengecewakan

Data yang dirilis Jumat lalu benar-benar mengejutkan pasar. Alih-alih bertambah, lapangan kerja non-pertanian AS justru anjlok 92 ribu pada Februari. Padahal, analis memperkirakan ada penambahan 58 ribu pekerjaan. Revisi data Januari juga tak kalah suram, turun jadi 126 ribu dari sebelumnya 130 ribu.

Akibatnya, tingkat pengangguran AS melonjak ke 4,4%. Angka ini lebih tinggi dari prediksi yang menyamakan dengan Januari di level 4,3%.

Laporan buruk ini langsung menghantam Indeks Dolar AS, yang melemah 0,4%. Investor pun mulai mempertimbangkan ulang kemungkinan The Fed memotong suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Gejolak Timur Tengah dan Dilema Bank Sentral

Konflik di Timur Tengah jelas punya dampak berantai. Selain emas, harga minyak mentah juga melambung tinggi sepanjang pekan. Ketegangan yang mengancam infrastruktur energi dan jalur pelayaran di Teluk memicu kekhawatiran baru: gelombang inflasi global bisa kembali muncul.

Nah, situasi ini bikin pusing bank sentral di mana-mana, termasuk The Fed. Harga minyak yang tinggi biasanya memicu inflasi. Kalau sudah begini, para pembuat kebijakan pasti akan berpikir dua kali untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Emas dan Ketegangan Iran

Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran kian memanas dalam sepekan terakhir. Serangan rudal dan balasan terjadi di berbagai titik, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Pernyataan Presiden Donald Trump yang ingin ikut menentukan pemimpin Iran pasca-perang hanya menambah ketidakpastian politik di kawasan itu.

Padahal, emas biasanya diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik dan prospek suku bunga rendah. Tapi minggu ini, logam kuning ini kesulitan mendapat momentum. Dolar yang kuat dan imbal hasil obligasi yang meningkat mengurangi daya tariknya.

Perak Naik, Tembaga Dibayangi Stok Melimpah

Di antara logam mulia lainnya, perak menunjukkan kinerja cukup cemerlang dengan kenaikan 2,6% menjadi USD 84,4210 per ons. Platinum juga menguat, meski lebih moderat di 0,9% ke level USD 2.147,95.

Ceritanya lain untuk tembaga. Harga acuan berjangka di LME malah turun 1,2% menjadi USD 12.902,00 per ton. Yang menarik, stok tembaga di gudang LME melonjak hampir 8% ke level tertinggi dalam 16 bulan pada Kamis.

Analis ING dalam sebuah catatan menyoroti hal ini. “Peningkatan persediaan ini mencerminkan arus masuk yang kuat ke gudang LME, didorong perubahan insentif harga regional. Struktur harga yang berbalik dari tahun lalu kini mendorong logam dialihkan kembali ke stok bursa global,” tulis mereka.

Kesimpulannya sederhana: “Lonjakan persediaan menciptakan latar belakang jangka pendek yang lebih sulit untuk harga tembaga.”

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar