Telepon itu datang tiba-tiba. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, yang sedang berada di Sumatera Barat untuk kunjungan kerja, harus menghentikan mobilnya di bahu jalan tol. Di seberang garis, Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan penuh. Intinya jelas: tuntaskan temuan kerugian negara yang nyaris menyentuh angka satu triliun rupiah di lingkungan Kementerian PU.
"Saya berhenti di tengah jalan tol," ujar Dody, mengisahkan momen itu. "Mungkin yang ada di Padang tahu saya berhenti di situ karena Pak Presiden menelepon. Beliau memberi apresiasi dan terima kasih. Tapi juga meminta saya untuk terus mengerjakan bersih-bersih ini."
Ia melanjutkan, "Perintahnya, jadikan Kementerian PU jauh lebih bersih lagi. Kerja harus efektif, efisien, dan tidak boleh ada lagi kebocoran."
Menurut Dody, fokus utama sekarang ya soal uang negara yang hilang itu. "Fokus kita sekarang memang pada itu," tegasnya. "Pada bagaimana satu triliun itu bisa kita bereskan secepat-cepatnya."
Angka satu triliun bukan main-main. Di benaknya, dana sebesar itu punya dampak riil yang luar biasa bagi rakyat. Bayangkan saja, kata dia, berapa jembatan yang bisa dibangun dengan uang sebanyak itu.
"Berapa anak-anak yang sekolah tidak harus berenang dulu untuk menyeberang? Berapa rumah atau rumah sakit yang bisa kita bangun?" tutur Dody, menggambarkan potensi manfaatnya.
Namun begitu, ia menyoroti sebuah kebiasaan lama yang kerap terjadi. Selama ini, pengembalian kerugian negara acapkali dilakukan dengan cara dicicil dalam jumlah yang sangat kecil.
"Kita sudah kasih kelonggaran super, bahkan super-super kelonggaran," katanya, terdengar sedikit geram. "Cuma disuruh mengembalikan saja. Tapi ya itu, pengembaliannya icrit-icrit, sejuta dua juta. Sisa tunggakannya masih menumpuk. Seolah-olah kalau sudah mengembalikan sejuta dari utang miliaran, urusan selesai."
Langkah pembersihan ini, bagi Dody, bukanlah inisiatifnya semata. Ini adalah mandat langsung dari orang nomor satu. Sejak awal masa jabatannya, pesan dari Presiden Prabowo sudah jelas dan tegas.
"Saya cuma berusaha menjalankan perintah beliau," kenang Dody. "Di hari pertama saya dipanggil ke Kartanegara, perintahnya cuma satu: bersih-bersih."
Nah, itulah tugas yang sedang dijalankannya sekarang. Membersihkan rumah, sekaligus mengembalikan apa yang menjadi hak negara.
Artikel Terkait
AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran sebagai Respons Penembakan Helikopter Apache di Selat Hormuz
Herdman Sesali Penyelesaian Akhir Kurang Tajam meski Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0
Ribuan Guru Blokir Akses ke Stadion Azteca Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026
Presiden Miliki Hak Prerogatif Perpanjang Usia Pensiun Kapolri, Wamenkum Tegaskan