Guru Besar IPB Tegaskan Data Stok Beras Pemerintah Valid Usai Sidak Prabowo

- Selasa, 21 April 2026 | 23:15 WIB
Guru Besar IPB Tegaskan Data Stok Beras Pemerintah Valid Usai Sidak Prabowo

Guru Besar IPB, Hermanto Siregar, angkat bicara soal gudang beras yang disidak Presiden Prabowo pekan lalu. Ia bilang, data stok beras dari pemerintah itu valid. Bisa dipercaya.

"Data dari Kementan dan Bulog itu benar adanya," tegas Hermanto lewat keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Pernyataannya ini merespons inspeksi mendadak Prabowo ke gudang Bulog di Magelang, Sabtu (18/4). Saat itu, Presiden melihat sendiri gudang berkapasitas 7.000 ton itu terisi penuh beras.

Menurut Hermanto, sidak semacam ini justru mengonfirmasi laporan resmi sekaligus menepis keraguan soal swasembada pangan yang kerap digaungkan.

"Sidak kan peninjauan mendadak, nggak bisa diatur-atur. Hasilnya menunjukkan gudang memang penuh. Jadi, kunjungan Presiden itu semacam verifikasi lapangan," ujarnya.

Ia meyakini, pemerintah tak mungkin main-main dengan data pangan. Alasannya sederhana: risikonya terlalu besar. Jika data dimanipulasi, gejolaknya akan langsung terasa di masyarakat. Makanya, angka stok yang beredar harusnya mencerminkan fakta sesungguhnya.

Soal angka 4,8 juta ton cadangan beras itu juga bukan asal comot. Hermanto menjelaskan, angka itu hasil kalkulasi bertahap. Akumulasi dari sisa stok lama, dikurangi penyalaran, lalu ditambah dengan serapan panen yang sudah berjalan sejak awal tahun.

"Hingga April ini panen masih jalan. Artinya, stok bakal terus nambah, apalagi nanti masuk puncak panen April-Mei," katanya.

Ia lalu memaparkan mekanisme standar Bulog. Saat panen raya, mereka menyerap gabah dari petani untuk memperkuat cadangan. Nah, ketika pasokan di pasar mulai menipis, Bulog turun tangan dengan operasi pasar. Tujuannya jelas: menjaga harga dan memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi.

Dengan cadangan yang sekarang mencapai 4,8 juta ton, peluang Indonesia untuk berhenti impor beras di tahun 2026 ini terbuka lebar. Tapi, Hermanto buru-buru menambahkan catatan.

Semua itu masih sangat bergantung pada faktor cuaca.

"Kalau iklim nggak ekstrem, El Nino nggak parah, peluang kita untuk nggak impor sangat besar. Apalagi nanti masih ada panen Agustus yang bisa menambah cadangan," jelasnya.

Di sisi lain, ia menilai sidak presiden punya makna strategis. Langkah itu bukan cuma soal memeriksa fisik beras, tapi juga upaya membangun kepercayaan publik. Setelah sekian lama ada keraguan soal data pangan, kehadiran langsung presiden di gudang dianggapnya sebagai jawaban yang konkret.

"Dengan sidak, Presiden verifikasi langsung kondisi di lapangan. Ini penting untuk menjawab keraguan publik soal ketersediaan beras dan capaian swasembada kita," pungkas Hermanto.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar