Polisi Berlutut di Jalan, Upaya Damai di Tengah Ancaman Perang Tanding
Sebuah video yang beredar di Facebook memperlihatkan adegan yang jarang terjadi. Di jalan aspal yang panas, seorang anggota polisi terlihat berlutut. Tangannya terkatup, memohon. Di depannya, dua kelompok massa yang saling berhadapan, nyaris beradu fisik. Kejadian ini terjadi di Desa Bula, Manggarai, NTT, Senin lalu, dan langsung menjadi perbincangan hangat.
Semua ini berawal dari sengketa lama: tanah ulayat. Dua kelompok warga, Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko, bersitegang. Ratusan orang dari kedua kubu akhirnya memenuhi Jalan Trans Flores, jalur vital yang menghubungkan Ruteng dan Labuan Bajo. Suasana saat itu benar-benar mencekam.
Menurut sejumlah saksi, kedua kelompok sudah saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Mereka membawa parang, tongkat panjang mirip tombak, bahkan batu. Jalan utama itu pun berubah total, dari urat nadi transportasi menjadi titik rawan konflik. Massa sudah dalam posisi siap, emosi memanas, bentrokan rasanya tinggal menunggu waktu.
Untungnya, aparat dari Polres Manggarai cepat tiba di lokasi. Mereka langsung berupaya memisahkan kedua kubu. Sementara beberapa anggota lain terus meneriakkan imbauan agar warga mundur dan tenang, satu polisi memilih cara yang berbeda. Dia maju, lalu berlutut tepat di tengah-tengah, di antara dua kelompok yang marah.
Dengan sikap itu, dia tampak memohon dengan sungguh-sungguh. Pendekatannya jelas: persuasif, humanis. Bukan ancaman, tapi permintaan dari hati ke hati agar semua pihak menahan diri.
Dan upaya itu perlahan membuahkan hasil. Ketegangan yang semula memuncak berangsur mereda. Massa mulai menahan diri, mundur sedikit demi sedikit. Akhirnya, situasi kritis itu berhasil dikendalikan tanpa ada bentrokan fisik sama sekali. Sebuah pencapaian yang tidak mudah di tengah panasnya situasi.
Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, menegaskan bahwa pendekatan seperti inilah yang selalu diutamakan.
“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Henry juga berpesan agar masyarakat tidak gampang terprovokasi oleh isu-isu yang bisa memecah belah. Ajakan untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di Manggarai pun disampaikan. Bagaimanapun, perdamaian adalah tujuan bersama yang harus dijaga, meski kadang harus diperjuangkan dengan cara yang tak biasa seperti berlutut di atas aspal.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu