Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran ini jelas bikin pusing. Dampaknya nyata ke harga dan kelancaran pasokan. Belum lagi isu penutupan Selat Hormuz yang jadi jalur penting pengiriman minyak. Nah, untuk mengatasi ini, pemerintah main aman. Mereka akan mengalihkan sumber impor.
“Setelah tadi kita detailing, total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen,” jelas Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3/2026).
Skenarionya, minyak mentah yang biasanya diambil dari Timur Tengah akan dialihkan ke Amerika. Dengan begitu, impor tidak perlu melalui Selat Hormuz yang rawan gangguan.
Untuk LPG, strateginya mirip. Sekitar 30 persen impor LPG Indonesia masih bergantung pada Timur Tengah. Porsi ini rencananya akan dicari dari negara lain. “Alternatifnya adalah kita switch lagi supaya kita tidak mau ambil risiko,” kata Bahlil soal upaya memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 7,8 juta ton per tahun ini.
Intinya, pemerintah berusaha keras menjaga stabilitas harga dan pasokan di tengah gejolak global. Warga bisa bernapas lega untuk harga Pertalite, setidaknya hingga Lebaran dua tahun mendatang. Tapi untuk jenis BBM lain, siap-siap saja kalau harganya ikut pasar berubah.
Artikel Terkait
Dinkes Tangsel Perketat Pengawasan Takjil Jelang Buka Puasa
Menteri Sebut Konten Kesehatan Palsu Paling Banyak Beredar di Meta
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa Bersama Ulama di Tengah Sorotan Desakan MUI Soal Board of Peace
Pemerintah Lampaui Target Revitalisasi 16.167 Sekolah, Usul Tambah Dana Rp89,49 Triliun