Denpasar – Pagi itu, di halaman Direktorat Reserse Narkoba Polda Bali, suara mesin blender terdengar menggerus tumpukan plastik dan bubuk putih. Bukan untuk membuat smoothie, tapi untuk menghancurkan barang bukti narkotika senilai lebih dari dua puluh miliar rupiah. Pemusnahan massal ini dipimpin langsung oleh Kapolda Bali, Irjen Pol Daniel Adityajaya, Rabu lalu.
Sebelum diblender dan dicampur air deterjen, semua barang bukti itu sudah melalui pemeriksaan ulang. Tim Bidang Laboratorium Forensik Polda Bali memastikan semuanya asli positif mengandung narkotika. Baru setelah itu, proses pemusnahan dimulai. Tujuannya jelas: agar barang haram itu benar-benar tak bisa dipakai lagi.
Jumlahnya cukup fantastis. Ada sabu seberat 5,661 kilogram. Lalu ekstasi, hampir lima ribu butir. Juga kokain 1,186 gram, ganja, hasis, dan THC. Kalau diakumulasi, nilainya tembus Rp20 miliar lebih.
Menurut Kapolda Daniel Adityajaya, barang bukti ini berasal dari sejumlah kasus yang berhasil diungkap.
“Dengan nilai segini, kami perkirakan sekitar 39.296 orang bisa terselamatkan dari potensi penyalahgunaan,” katanya.
Angka itu, jelasnya, dihitung dari estimasi jumlah pengguna yang bisa dijangkau oleh barang bukti yang disita. Jadi, ini bukan sekadar acara seremonial belaka. “Ini komitmen kami. Kami enggak mau kasih ruang sedikit pun buat pengedar di Bali,” tegas Daniel.
Di sisi lain, pemusnahan terbuka seperti ini juga punya pesan tersendiri. Ia ingin jadi peringatan keras bagi jaringan narkoba bahwa Bali bukan tempat yang aman bagi bisnis mereka. Apalagi sebagai destinasi wisata dunia, pulau ini memang rentan. Modus masuknya beragam, lewat darat, laut, atau udara.
Kapolda menegaskan, semua prosedur hukum sudah dipatuhi. Pemusnahan ini punya kekuatan hukum tetap, mengacu pada UU Narkotika.
“Ini soal akuntabilitas dan transparansi. Setelah proses hukum selesai, barang bukti harus dimusnahkan sesuai aturan,” ujarnya.
Ke depan, Polda Bali berjanji akan terus memperketat pengawasan. Sinergi dengan instansi lain juga akan ditingkatkan. Tapi penindakan saja tidak cukup. Mereka akan gencar juga melakukan edukasi ke masyarakat, terutama generasi muda, untuk memutus mata rantai penyalahgunaan dari akarnya.
Langkah pencegahan, kata mereka, sama pentingnya dengan tindakan tegas di lapangan.
Artikel Terkait
Pria di Tangerang Tewaskan Ibu Tiri Diduga Dipicu Penolakan Pinjam HP dan Pengaruh Narkoba
Kementerian PU Resmikan Dua Sentra Gizi Baru di Perbatasan RI-Timor Leste
Polisi Bongkar Laboratorium Tembakau Sintetis di Apartemen Jakarta Pusat
Wakil Ketua KPK Ungkap Pola Pencucian Uang Korupsi Lewat Selingkuhan