Klaim itu sekaligus jadi penegasan: mereka tak tertarik dengan ajakan berdamai. Dari sudut pandang Teheran, merekalah yang diserang lebih dulu. Serangan yang disebut-sebut merenggut nyawa Pemimpin Agung mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Balasannya? Iran meluncurkan rudal-rudalnya, bukan cuma ke Israel, tapi juga ke sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Lalu bagaimana dengan negara-negara Teluk yang jadi sasaran? Esmail punya penjelasan. Dia menegaskan bahwa target Iran bukanlah negara Arab itu sendiri. Yang mereka bidik adalah aset-aset milik AS dan Israel yang berada di wilayah tersebut, termasuk pasukan yang ditempatkan di sana.
Di sisi lain, sebenarnya sudah ada beberapa pihak yang mengangkat tangan, menawarkan diri jadi penengah. Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan kesediaannya. Begitu pula Vladimir Putin dari Rusia. Tapi sejauh ini, tawaran itu seperti tak digubris.
Qatar, yang selama ini punya peran sebagai mediator antara Iran dan AS, mengaku keadaan sepi. Hingga saat ini, kata mereka, tidak ada komunikasi apa pun dengan pihak Iran. Situasi itu jelas bukan pertanda baik. Malah mengindikasikan bahwa serangan Iran masih akan berlanjut.
Konfliknya sendiri makin meluas, tak cuma di satu front. Hizbullah, kelompok yang punya kedekatan kuat dengan Iran dan berbasis di Libanon selatan, sudah ikut terlibat. Mereka kini bergabung dalam perlawanan terhadap Israel, membuat medan pertikaian kian rumit dan berbahaya.
Jadi, untuk sekarang, jalan damai masih terlihat sangat jauh. Iran memilih untuk berdiri sendiri, dengan rudal terhunus, di tengah lingkaran api yang mereka sendiri perluas.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Harga Pertalite Tak Naik Meski Harga Minyak Dunia Melonjak
Menteri Keuangan Pastikan APBN Tahan Dampak Gejolak Iran
Aktivis: Serangan AS-Israel ke Iran Bertujuan Lumpuhkan Dukungan untuk Gaza
Pakar: Kematian Khamenei Akibat Prinsipnya Tolak Perlindungan, Bukan Kehebatan Teknologi Musuh