Jakarta Ketegangan di Timur Tengah yang memanas pekan lalu, rupanya langsung terasa hingga ke meja para pengambil kebijakan energi di dalam negeri. PT Pertamina (Persero) saat ini masih sibuk berkoordinasi, mencari-cari alternatif sumber impor minyak mentah pengganti kawasan itu. Langkah ini tak lepas dari rencana pemerintah yang berencana mengalihkan impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.
Pemicunya jelas: serangan militer gabungan AS dan Israel ke fasilitas di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026 lalu. Situasi geopolitik yang tiba-tiba panas itu bikin semua orang waswas. Apalagi kabar burung beredar bahwa Iran menutup Selat Hormuz. Itu kan jalur ekspor minyak paling strategis di dunia. Kalau benar, dampaknya ke harga global bisa luar biasa.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengakui pihaknya sedang bergerak cepat. "Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk pengalihan impor minyak mentah dari Timur Tengah," ujarnya.
Koordinasi itu, menurutnya, penting untuk jaminan pasokan energi nasional. "Jadi alternatif-alternatif yang sedang kita lakukan tentu dalam proses karena ini baru beberapa hari," kata Baron di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Dia berjanji akan memberikan update ke media soal kesiapan proses tersebut nantinya.
Baron menegaskan, apapun yang terjadi, kebutuhan nasional adalah prioritas utama. Impor akan tetap mengikuti tata kelola yang baik. Tapi dia tak menampik realitas di pasar global. Harga minyak dunia memang sedang melonjak akibat perang. Bahkan, harganya sudah tembus asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang cuma US$70 per barel.
Data Bloomberg hari itu menunjukkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bertengger di atas US$71 per barel, setelah sebelumnya meroket lebih dari 6%. Sementara minyak Brent mendekati US$78 per barel. Menanggapi ini, Baron bilang, "Untuk tarif BBM ke depan ini masih kami berproses melihat perkembangan lebih lanjut."
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah buka suara. Dia mencoba menenangkan dengan menyebut porsi impor minyak mentah dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz sebenarnya tak terlalu besar, cuma sekitar 20% sampai 25%.
"Total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20 sampai 25%. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil," jelas Bahlil dalam konferensi pers di hari yang sama.
Tapi, kata dia, pemerintah pasti tidak akan tinggal diam. Beberapa langkah mitigasi sudah disiapkan. Salah satunya ya itu: mengalihkan impor dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. "Dalam rangka itu kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," tutur Bahlil.
Menariknya, Bahlil memberi penjelasan lebih rinci. Impor dari Timur Tengah selama ini hanya untuk minyak mentah atau crude oil. Sementara untuk BBM jadi, seperti bensin dan solar, Indonesia sama sekali tidak ambil dari sana. Menurutnya, pasokan BBM jadi itu berasal dari kawasan Asia Tenggara, jadi relatif aman dari gejolak Timur Tengah.
Lalu bagaimana dengan LPG? Ini komoditas yang juga vital. Bahlil menyebut impor LPG Indonesia mencapai 7,3 juta ton per tahun, dan akan naik jadi 7,8 juta ton tahun ini. Nah, dari jumlah itu, 70%-nya sudah diambil dari AS. Hanya 30% sisanya yang bersumber dari Timur Tengah, tepatnya Aramco.
Dan masalahnya muncul di sini. Kilang Aramco sendiri dikabarkan ditutup karena kena serangan rudal. "Maka alternatifnya adalah kita switch lagi, supaya kita tidak mengambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz," ucap Bahlil.
Sayangnya, menteri belum bisa merinci negara pengganti mana yang dimaksud. Rencana sudah ada, tapi detailnya masih digodok. Situasinya memang dinamis, dan semua pihak tampaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut sambil menyiapkan skenario terburuk.
Artikel Terkait
BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Rp281 Juta untuk Ahli Waris Petugas PPSU Tewas Kecelakaan Kerja
Shelter Indonesia Transformasi dari Penyedia Tenaga Kerja ke Ekosistem Operasional Terintegrasi
Unpad Nonaktifkan Dosen Diduga Lakukan Kekerasan Seksual ke Mahasiswi
Pakar Hukum dan Pengamat Politik Dilaporkan ke Polisi Atas Ujaran Kritis