Latar belakang keluarganya yang elite berasal dari keluarga ulama terkemuka tentu membantu. Namun begitu, ada satu hal yang mungkin menghalanginya untuk naik ke puncak: dia bukan ulama Syiah senior. Syarat itu penting untuk jadi Pemimpin Tertinggi. Karena itu, meski berpengaruh, Larijani tidak dianggap sebagai calon pengganti Khamenei.
Namun, laporan The New York Times menyebutkan hal menarik. Namanya disebut-sebut berada di urutan teratas dalam daftar kontinjensi untuk mengelola negara jika terjadi gangguan kepemimpinan. Artinya, dialah operator kunci di balik layar.
Soal karakternya, gambaran yang muncul beragam. Para pengamat melihatnya sebagai konservatif yang kalkulatif, campuran pragmatisme dan nasionalisme. Tapi di sisi lain, kritikus tak lupa mengaitkan namanya dengan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat dan isu pelanggaran HAM.
Bagi pendukungnya, di tengah tekanan yang menghimpit, Larijani justru dilihat sebagai salah satu dari sedikit figur yang masih bisa menjaga stabilitas. Sistem butuh penjaga, dan saat ini, dialah yang memegang kendali.
Masa depan Iran masih gelap. Tapi untuk sementara, jalan itu diterangi oleh sosok yang sudah puluhan tahun berkeliaran di koridor kekuasaan Teheran.
Artikel Terkait
Jenazah Try Sutrisno Disalatkan di Masjid Sunda Kelapa Sebelum Dimakamkan di Kalibata
Hizbullah Luncurkan Rudal ke Israel, Balasan Serang Wilayah Lebanon
Wapres Keenam RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD
CENTCOM Bantah Klaim Iran Serang Kapal Induk AS di Tengah Eskalasi